Sabtu, 21 Oktober 2017

RPP BAHASA INDONESIA kelas XI



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah                        : SMA N
Mata Pelajaran             : BAHASA INDONESIA
Kelas/Semester            : XI/1
Materi Pokok               : Teks Cerpen
Alokasi Waktu                       : 4 X 45 MENIT


A. Kompetensi Inti
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.
B. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.8Mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam kumpulan cerita pendek yang dibaca




4.8Mendemonstrasikan salah satu nilai kehidupan yang dipelajari dalam cerita pendek





3.8.1 Merumuskan isi cerpen yang dibaca dengan tepat
3.8.2Mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam kumpulan cerpen yang dibaca dengan cermat dan tangguang jawab


4.4.1 Mendemonstrasikan salah satu nilai kehidupan dengan baik dan bertanggung jawab
4.4.2 Memberikan tanggapan hasil kerja teman atau kelompok lain secara lisan (kekurangan dan kelebihan dilihat dari kejelasan isi, kelengkapan data, EYD, dan penggunaan kalimat).

C.Tujuan Pembelajaran
.Peserta didik mampu mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalam cerpen yang dibaca
Peserta didik mampu mendemonstrasikan niali-nilai yang terkandung di dalam cerpen yang dibaca

D. Materi Pembelajaran
1. Fakta: Teks cerita pendek
2. Konsep: nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerpen yang dibaca
3. Prinsip: Nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerpen(nilai moral, nilai sosial, nilai religi, nilai budaya)
D. Metode Pembelajaran
            - Diskusi
            - Ceramah
            - Discovery Learning
            - Presentasi Materi




E. Media Pembelajaran
1. Media/alat: Laptop, LCD
2. Bahan:
     Teks wacana berjudul Juru Masak dan Banun

F. Sumber Belajar
1.   Mulyadi, Yadi. 2014. Bahasa dan Sastra Indonesia.Bandung : Vrama Widya
2.    Media Internet yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerpen yang dibaca.

Oval Callout: religiusG. Langkah-Langkah Pembelajaran

Kegiatan
Sintak Model Pembelajaran
Deskripsi Kegiatan

Alokasi Waktu
Pendahuluan
Discovery Learning




1.  Ketua kelas meminpin doa
2. Peserta didik merespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya
2.  Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan
3.  Peserta didik menerima informasi kompetensi yang akan dilaksanakan
15
Inti





Stimulation (memberi stimulasi)
Oval Callout: Literasi1.  Peserta didik membentuk kelompok belajar beranggotakan 4 – 6.
2.  Peserta didik mendapatkan model teks  cerita pendek.
3.  Peserta didik membaca model teks cerpen.

Statement(Mengidentifikasi masalah)
4.  Setelah membaca siswa merumuskan isi cerpen yang di baca
Oval Callout: HOTS5.  Peserta didik mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang tekandung dalam cerpen yang dibaca

Pengolahan Data.
Oval Callout: C4 (collaborated, comunication6.  Peserta didik mengeksplorasi/ mengolah data nilai-nilai kehidupan yang tekandung dalam cerpen dengan kehidupan nyata secara berdiskusi

Oval Callout: LiterasiVerification
7.  Peserta didik dengan mengunakan berbagai sumber mencari kebenaran tentang nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalam cerpen
8.  Peserta didik mendemonstrasikan hasil diskusi tentang nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen yang dibaca.

Generalizaton
9.  Peserta didik memperoleh klarifikasi/ penegasan dari guru tentang cerpen.
10.       Peserta didik memperoleh pengayaan informasi dan referensi dari guru
11.       Peserta didik memperoleh apresiasi dari guru.


60
Kegiatan Penutup
Generalitation (meanarik kesimpulan)
1.  Peserta didik bersama guru menyimpulkan pembelajaran
2.  Peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan
3.  Peserta didik dan guru merencanakan tindak lanjut pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya
4.  Menginformasikan materi yang akan datang.
15

.  H. Penilaian  Hasil  Belajar
     Lembar Kerja Siswa 1
1.   Baca teks cerpen “Juru Masak” dan “Banun”!
2.   Apa isi dari kedua teks tersebut?
3.   Nilai-niali kehidupan apa sajakah yang terkandung dalam  kedua cerpen tersebut? Buktikan dengan menunjukan kalimat yang terkait dengan jawabanmu!

Lampiran-lampiran:
1. Materi Pembelajaran Pertemuan 1
     Wacana Teks Cerpen “Juru Masak dan “Banun”
2.Nilai-Nilai Kehidupan yang Terkandung dalam Cerpen
3. Bentuk, Teknik, dan Instrument Penilaian Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan


Mengetahui                                                                 Ngaglik,   Agustus 2017
Kepala Sekolah                                                           Guru Bahasa Indonesia,


















LAMPIRAN


1.   Materi

Juru Masak
Damhuri Muhammad
Perhelatan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu. Gulai kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tidak meresap ke dalam daging. Kuah gulaikentang dan gulai rebung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapaparut hingga setiap menu masakan kekurangan santan. Akibatnya, berseraklahfitnah dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah. Bukan karena kendurikurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tetapi karena macam-macam hidanganyang tersuguh tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tetapi helattak bikin kenyang. Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tidak dilibatkan.
Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tiga belas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tidak berjalan mulus, bahkan hampir saja batal. Keluarga mempelai pria merasa dibohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan kepada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Namun, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung, dan aneka hidangan yang tersaji ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan itu bisa dibohongi? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.
“Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, kenduri tak usah dilanjutkan!”
ancam Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.
“Apa susahnya mendatangkan Makaji?”
“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”
Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar gulai kambing dan gulai rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tidak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisa di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.
***
“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu setiap kenduri di kampung
ini, bagaimana kalau tanggung jawab itu dibebankan pada yang lebih muda?”
saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampung enam bulan lalu.
“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”
“Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik
bumbu,” balas Makaji waktu itu.
“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru
masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi
berjauhan dengan Ayah.”
Sejenak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orang tua memang selalu begitu, walau terasa semanis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, mesti matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orang tua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial akan segera memboyongnya ke rantau. Makaji tetap akan mempunyai kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di rumah makan milik anaknya sendiri.
“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi!”
 “Kenduri siapa?” tanya Azrial.
“Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah
sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.”
Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis  Mangkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang tidak lain adalah Renggogeni, anak perempuan tunggal beleng itu. Siapa pula yang tak kenal Mangkudun? Di Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hampir sepertiga wilayah kampung ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres di tangannya. Mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang, atau tambak ikan sebagai agunan. Dengan senang hati Mangkudun akan memegang gadaian itu. Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hampir tamat dari akademi perawat di kota. Tidak banyak orang Lareh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi seorang juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas dan loyang perbedaan mereka.
“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru
masak!” bentak Mangkudun. Dan tak lama berselang, kabar ini berdengung
juga di telinga Azrial.
“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab. Renggo yakin kami berjodoh.”
“Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan
saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tetapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa
luka hati.
Awalnya ia hanya tukang cuci piring di rumah makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan.
Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah, tak ada yang merawat. Adik-adiknya sudah terbang hambur pula ke negeri orang. Meski hidup Azrial sudah berada, tetapi ia masih saja membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tetapi tak seorang perempuan pun yang mampu meluluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.
***
Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit, pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar kenduri bukan orang berpengaruh seperti Mangkudun, tentu tak sembarang dipertontonkan. Para tetua kampung menyiapkan pertunjukan pencak guna menyambut kedatangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakan, tetapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsu pensiunan tentara, orang disegani di kampung sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Terdengar kabar bahwa perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.
Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan mencarikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tengoklah, Renggogeni kini tengah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak “macam-macam” tentu kariernya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tetapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tidak begitu ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya datang di hari pertama, sekadar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan kenduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helat. Bahkan ada yang belum sempat mencicipi hidangan, sudah tergesa pulang.
“Gulai kambingnya tak ada rasa,” bisik seorang tamu.
“Kuah gulai rebungnya encer seperti kuah sayur toge. Kembang perut kami
dibuatnya.”
“Masakannya tak mengenyangkan, tak mengundang selera.”
“Pasti juru masaknya bukan Makaji!”11
Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria
diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan
menu masakan yang asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer, dan daging yang
tak kempuh. Padahal mereka bersemangat datang karena pesta perkawinan di
Lareh Panjang mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu rasa masakan hasil
olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji?
“Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini?” begitu
mereka bertanya-tanya.
“Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu.”
“Ah, menyesal kami datang ke pesta ini.”
***
Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji dating dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang akan kehilangan juru masaK handal yang pernah ada di kampung itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membayangkan betapa terpiuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting lelaki lain.


Banun
Cerpen Damhuri Muhammad
Bila ada yang bertanya, siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar, pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian, seseorang menambahkan kata “kikir” di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.
Ada banyak Banun di perkampungan lereng bukit yang sejak dulu tanahnya subur hingga tersohor sebagai daerah penghasil padi kwalitet nomor satu itu. Pertama, Banun dukun patah-tulang yang dangau usangnya kerap didatangi laki-laki pekerja keras bila pinggang atau pangkal lengannya terkilir akibat terlampau bergairah mengayun cangkul. Disebut-sebut, kemampuan turuntemurun Banun ini tak hanya ampuh mengobati patah-tulang orang-orang tani, tapi juga bisa mempertautkan kembali lutut kuda yang retak akibat bendi yang dihelanya terguling lantaran sarat muatan. Kedua, Banun dukun beranak yang kehandalannya lebih dipercayai ketimbang bidan desa yang belum apa-apa sudah angkat tangan, lalu menyarankan pasien buntingnya bersalin di rumah sakit kabupaten. Sedemikian mumpuninya kemampuan Banun kedua ini, bidan desa merasa lebih banyak menimba pengalaman dari dukun itu ketimbang dari buku-buku semasa di akademi. Ketiga, Banun tukang lemang yang hanya akan tampak sibuk pada hari Selasa dan Sabtu, hari berburu yang nyaris tak sekali pun dilewatkan oleh para penggila buru babi dari berbagai pelosok. Di hutan mana para pemburu melepas anjing, di sana pasti tegak lapak lemang-tapai milik Banun.
Berburu seolah tidak afdol tanpa lemang-tapai bikinan Banun, yang hingga kini belum terungkap rahasianya. Tapi, hanya ada satu Banun Kikir yang karena riwayat kekikirannya begitu menakjubkan, tanpa mengurangi rasa hormat pada Banun-Banun yang lain, sepatutnyalah ia menjadi lakon dalam cerita ini.
***
Di sepanjang usianya, Banun Kikir tak pernah membeli minyak tanah untuk mengasapi dapur keluarganya. Perempuan itu menanak nasi dengan cara menyorongkan seikat daun kelapa kering ke dalam tungku, dan setelah api menyala, lekas disorongkannya pula beberapa keping kayu bakar yang selalu tersedia di bawah lumbungnya. Saban petang, selepas bergelimang lumpur sawah, daun-daun kelapa kering itu dipikulnya dari kebun yang sejak lama telah digarapnya. Mungkin sudah tak terhitung berapa jumlah simpanan Banun selama ia menahan diri untuk tidak membeli minyak tanah guna menyalakan tungku. Sebab, daun-daun kelapa kering di kebunnya tiada bakal pernah berhenti berjatuhan.
59
“Hasil sawah yang tak seberapa itu hendak dibawa mati, Mak?” tanya Rimah
suatu ketika. Kuping anak gadis Banun itu panas karena gunjing perihal Banun
Kikir tiada kunjung reda.
“Mak tak hanya kikir pada orang lain, tapi juga kikir pada perut sendiri,”
gerutu Nami, anak kedua Banun.
“Tak usah hiraukan gunjingan orang! Kalau benar apa yang mereka tuduhkan,
kalian tak bakal mengenyam bangku sekolah, dan seumur-umur akan jadi orang
tani,” bentak Banun.
“Sebagai anak yang lahir dari rahim orang tani, semestinya kalian paham
bagaimana tabiat petani sejati.”
Sejak itulah Banun menyingkapkan rahasia hidupnya pada anak-anaknya, termasuk pada Rimah, anak bungsunya itu. Ia menjelaskan kata “tani” sebagai penyempitan dari “tahani”, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa orang kini berarti: “menahan diri”. Menahan diri untuk tidak membeli segala sesuatu yang dapat diperoleh dengan cara bercocok tanam. Sebutlah misalnya, sayur-mayur, cabai, bawang, seledri, kunyit, lengkuas, jahe. Di sepanjang riwayatnya dalam menyelenggarakan hidup, orang tani hanya akan membeli garam. Minyak goring sekalipun, sedapat-dapatnya dibikin sendiri. Begitu ajaran mendiang suami Banun, yang meninggalkan perempuan itu ketika anak-anaknya belum bisa mengelap ingus sendiri. Semakin banyak yang dapat “ditahani” Banun, semakin kokoh ia berdiri sebagai orang tani.
Maka, selepas kesibukannya menanam, menyiangi, dan menuai padi di sawah milik sendiri, dengan segenap tenaga yang tersisa, Banun menghijaukan pekarangan dengan bermacam-ragam sayuran, cabai, seledri, bawang, lengkuas, jahe, kunyit, gardamunggu, jeruk nipis, hingga semua kebutuhannya untuk memasak tersedia hanya beberapa jengkal dari sudut dapurnya. Bila semua kebutuhan memasak harus dibeli Banun dengan penghasilannya sebagai petani padi, tentu akan jauh dari memadai. Bagi Banun, segala sesuatu yang dapat tumbuh di atas tanahnya, lagi pula apa yang tak bisa tumbuh di tanah kampung itu, akan ditanamnya, agar ia selalu terhindar dari keharusan membeli. Dengan begitu, penghasilan dari panen padi, kelak bakal terkumpul, guna membeli lahan sawah yang lebih luas lagi. Dan, setelah bertahun-tahun menjadi orang tani, tengoklah keluarga Banun kini. Hampir separuh dari lahan sawah yang terbentang di wilayah kampung tempat ia lahir dan dibesarkan, telah jatuh ke tangannya. Orang-orang menyebutnya tuan tanah, yang seolah tidak pernah kehabisan uang guna meladeni mereka yang terdesak keperluan biaya sekolah anak-anak. Tak jarang pula untuk biaya keberangkatan anak-anak gadis mereka ke luar negeri, untuk menjadi TKW, lalu menggadai, bahkan menjual lahan sawah. Empat orang anak Banun telah disarjanakan dengan kucuran peluhnya selama menjadi orang tani.
***
Sesungguhnya Banun tidak lupa pada orang yang pertama kali menjulukinya Banun Kikir hingga nama buruk itu melekat sampai umurnya hampir berkepala tujuh. Orang itu tidak lain adalah Palar, laki-laki ahli waris tunggal kekayaan ibu-bapaknya. Namun, karena tak terbiasa berkubang lumpur sawah, Palar tak pernah sanggup menjalankan lelaku orang tani. Untuk sekebat sayur kangkung pun, Zubaidah (istri Palar), harus berbelanja ke pasar. Pekarangan rumahnya gersang. Kolamnya kering. Bahkan sebatang pohon Singkong pun menjadi tumbuhan langka. Selama masih tersedia di pasar, kenapa harus ditanam? Begitu kira-kira prinsip hidup Palar. Baginya, bercocok tanam aneka tumbuhan untuk kebutuhan makan sehari-hari, hanya akan membuat pekerjaan di sawah jadi terbengkalai. Lagi pula, bukankah ada tauke yang selalu berkenan memberi pinjaman, selama orang tani masih mau menyemai benih? Namun, tauke-tauke yang selalu bermurah-hati itu, bahkan sebelum sawah digarap, akan mematok harga jual padi seenak perutnya, dan para petani tidak berkutik dibuatnya. Perangai lintah darat itu sudah merajalela, bahkan sejak Banun belum mahir menyemai benih. Palar salah satu korbannya. Dua pertiga lahan sawah yang diwarisinya telah berpindah tangan pada seorang tauke, lantaran dari musim ke musim hasil panennya merosot. Palar juga terpaksa melego beberapa petak sawah guna membiayai kuliah Rustam, anak laki-laki satu-satunya, yang kelak bakal menyandang gelar insinyur pertanian. Dalam belitan hutang yang entah kapan bakal terlunasi, Palar mendatangi rumah Banun, hendak meminang Rimah untuk Rustam.
“Karena kita sama-sama orang tani, bagaimana kalau Rimah kita nikahkan
dengan Rustam?” bujuk Palar masa itu.
“Pinanganmu terlambat. Rimah sudah punya calon suami,” balas Banun
dengan sorot mata sinis.
“Keluargamu beruntung bila menerima Rustam. Ia akan menjadi satu-satunya
insinyur pertanian di kampung ini, dan hendak menerapkan cara bertani zaman
kini, hingga orang-orang tani tidak lagi terpuruk dalam kesusahan,” ungkap Palar
sebelum meninggalkan rumah Banun.
“Maafkan saya, Palar.”
Rupanya penolakan Banun telah menyinggung perasaan Palar. Lelaki itu merasa terhina. Mentang-mentang sudah kaya, Banun mentah-mentah menolak pinangannya. Dan, yang lebih menyakitkan, ini bukan penolakan yang pertama. Tiga bulan setelah suami Banun meninggal, Palar menyampaikan niatnya hendak mempersunting janda kembang itu. Tapi, Banun bertekad akan membesarkan anak-anaknya tanpa suami baru. Itu sebabnya Palar menggunakan segala siasat dan muslihat agar Banun termaklumatkan sebagai perempuan paling kikir di kampung itu. Palar hendak membuat Banun menanggung malu, bila perlu sampai ajal datang menjemputnya.
***61
Meski kini sudah zaman gas elpiji, Banun masih mengasapi dapur dengan daun kelapa kering dan kayu bakar, hingga ia masih menyandang julukan si Banun Kikir. “Nasi tak terasa sebagai nasi bila dimasak dengan elpiji,” kilah Banun saat menolak tawaran Rimah yang hendak membelikannya kompor gas. Rimah sudah hidup berkecukupan bersama suaminya yang bekerja sebagai guru di ibu kota kabupaten. Begitu pula dengan Nami dan dua anak Banun yang lain. Sejak menikah, mereka tinggal di rumah masing-masing. Setiap Jumat, Banun dating berkunjung, menjenguk cucu, secara bergiliran.
“Kalau Mak menerima pinangan Rustam, tentu julukan buruk itu tak pernah
ada,” sesal Rimah suatu hari.
“Masa itu kenapa Mak mengatakan bahwa aku sudah punya calon suami,
padahal belum, bukan?”
“Bukankah calon menantu Mak calon insinyur?”
“Tak usah kau ungkit-ungkit lagi cerita lama. Mungkin Rustam bukan
jodohmu!” sela Banun.
“Tapi seandainya kami berjodoh, Mak tak akan dinamai Banun Kikir!”
Sesaat Banun diam. Tanya-tanya nyinyir Rimah mengingatkan ia pada Palar yang begitu bangga punya anak bertitel insinyur pertanian, yang katanya dapat melipatgandakan hasil panen dengan mengajarkan teori-teori pertanian. Tapi, bagaimana mungkin Rustam akan memberi contoh cara bertani modern, sementara sawahnya sudah ludes terjual? Kalau memang benar Palar orang tani yang sesungguhnya, ia tidak akan gampang menjual lahan sawah, meski untuk mencetak insinyur pertanian yang dibanggakannya itu. Apalah guna insinyur pertanian bila tidak mengamalkan laku orang tani? Banun menolak pinangan itu bukan karena Palar sedang terbelit hutang, tidak pula karena ia sudah jadi tuan tanah, tapi karena perangai buruk Palar yang dianggapnya sebagai penghinaan pada jalan hidup orang tani. (*)
Tanah Baru, 2010
(Kompas, 24 Oktober 2010)

Nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen:
1)   Nilai agama berkaitan dengan perilaku benar atau salah dalam menjalankan aturan-aturan Tuhan
2)   Nilai budaya berkaitan dengan pemikiran, kebiasaan, dan hasil karya cipta manusia.
3)   Nilai sosial berkaitan dengan tata laku hubungan antarsesama manusia(kemasyarakatan)
4)   Nilai moral berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan manusia dan masyarakat
2.   Penilaian Sikap
1)   Teknik dan Bentuk Penilaian

Kompetensi
Teknik
Bentuk
Tujuan

Sikap-Spiritual Sosial
Observasi
Pedoman observasi
Daftar cek dan skala penilaian  disertai rubrik

Formatif, pembentukan sikap berdasar nilai-nilai yang diyakini

Jurnal
Lembar Jurnal
Formatif Terstruktur

2)   Instument Penilaian Sikap
a.  Observasi
Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan!
No.
Nama Siswa
Religius
Tanggung Jawab
Peduli
Responsif
Santun
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
1





















2





















3





















4





















5






















a)    MK : Membudaya
b)    MB : Mulai berkembang
c)     MT : Mulai tampak
d)    BT : Belum tampak

b.   Jurnal

No
Tanggal
Nama Siswa
Catatan Perilaku
Butir Sikap














































3.   Penilaian Pengetahuan
1)   Teknik       : Tes Tertulis
2)   Bentuk      : Essay
3)   Instrument :


KUNCI / KRITERIA JAWABAN/ ASPEK YANG DINILAI
TINGKAT
SKOR
1
ISI CERPEN
·      Sesuai dengan isi kutipan, luas dan lengkap, amat terjabar.
·      Sesuai dengan kutipan, luas dan lengkap, terjabar kurang baik.
·      Sesuai dengan kutipan,kurang  luas dan kurang lengkap, terjabar kurang baik.
·      Tidak sesuai dengan kutipan, tidak luas dan tidak lengkap, terjabar tidak  baik.




Amat Baik

Baik

Sedang

Kurang

4

3

2

1
2
NILAI-NILAI KEHIDUPAN DALAM CERPEN
·      Benar, lengkap, amat jelas, kaya akan gagasan, logis, kohesi amat tinggi
·      Benar, lengkap, amat jelas, kaya akan gagasan, logis, kohesi kurang baik.
·      Benar, kurang lengkap lengkap, kurang  jelas, miskin gagasan,  logis, kohesi kurang baik
·      Tidak benar, tidak lengkap, tidak jelas   jelas, miskin gagasan, tidak  logis, kohesi  tidak baik

Amat Baik
Baik
Sedang
Kurang

4
3
2
1
3
KAIDAH TATA BAHASA
·      Amat menguasai tata bahasa, amat sedikit kesalahan penggunaan dan penyusunan kalimat.
·      Penggunaan dan penyusunan kalimat sederhana, sedikit kesalahan tata bahasa tanpa mengaburkan makna
·      Kesulitan dalam penggunaan dan penyusunan kalimat sederhana, kesalahan tata bahasa yang mengaburkan makna.
·      Tidak menguasai penggunaan dan penyusunan kalimat tidak komunikatif


Amat Baik
Baik
Sedang
Kurang

4
3
2
1
4.
INTERPRETASI TEKS
·      Sesuai dengan isi teks, lengkap, logis, runtut, dankomunikatif.
·      Sesuai dengan isi teks, lengkap, logis, runtut, tetapi kurang komunikatif.
·      Sesuai dengan isi teks, lengkap, logis,tetapi kurang  runtut dan kurang komunikatif
·      Tidak sesuai dengan isi teks, tidak lengkap,tidak  logis, tidak runtut, dan tidak komunikatif

Amat Baik
Baik
Sedang
Kurang
4
3
2
1





4.   Penilaian Keterampilan
1)Teknik          : Praktek dan Portofolio
2) Bentuk        : Presentasi
3) Instrument :

Nama
:
Kelas/NIS
:
Tanggal
:

No
Aspek
Amat Baik
Baik
Cukup
Kurang


4
3
2
1
1
Persiapan




2
Penyampaian




3
Penampilan




4
Komunikasi nonverbal




5
Komunikasi Verbal




6
Pemanfaatan piranti Bahasa




7
Alat Bantu Visual




8
Tanggapan terhadap Pertanyaan




9
Isi





Jumlah





Tidak ada komentar:

Posting Komentar