RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SMA N
Mata Pelajaran : BAHASA INDONESIA
Kelas/Semester : XI/1
Materi Pokok : Teks Cerpen
Alokasi Waktu :
4 X 45 MENIT
A. Kompetensi Inti
KI
3 Memahami, menerapkan, menganalisis
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena
dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI
4 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai
kaidah keilmuan.
B. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
|
3.8Mengidentifikasi
nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam kumpulan cerita pendek yang
dibaca
4.8Mendemonstrasikan salah satu nilai
kehidupan yang dipelajari dalam cerita pendek
|
3.8.1 Merumuskan isi cerpen yang
dibaca dengan tepat
3.8.2Mengidentifikasi nilai-nilai
kehidupan yang terkandung dalam kumpulan cerpen yang dibaca dengan cermat dan
tangguang jawab
4.4.1 Mendemonstrasikan salah satu
nilai kehidupan dengan baik dan bertanggung jawab
4.4.2 Memberikan
tanggapan hasil kerja teman atau kelompok lain secara lisan (kekurangan dan
kelebihan dilihat dari kejelasan isi, kelengkapan data, EYD, dan penggunaan
kalimat).
|
C.Tujuan
Pembelajaran
.Peserta
didik mampu mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalam
cerpen yang dibaca
Peserta
didik mampu mendemonstrasikan niali-nilai yang terkandung di dalam cerpen yang
dibaca
D. Materi Pembelajaran
1. Fakta: Teks cerita pendek
2. Konsep: nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerpen yang
dibaca
3. Prinsip: Nilai-nilai
kehidupan yang terkandung dalam cerpen(nilai moral, nilai sosial, nilai religi,
nilai budaya)
D. Metode Pembelajaran
-
Diskusi
-
Ceramah
-
Discovery Learning
-
Presentasi Materi
E. Media Pembelajaran
1.
Media/alat:
Laptop, LCD
2.
Bahan:
Teks wacana berjudul Juru Masak dan
Banun
F. Sumber Belajar
1. Mulyadi, Yadi. 2014. Bahasa dan Sastra
Indonesia.Bandung : Vrama Widya
2. Media Internet yang berkaitan dengan
nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerpen yang dibaca.
G.
Langkah-Langkah Pembelajaran|
Kegiatan
|
Sintak Model Pembelajaran
|
Deskripsi Kegiatan
|
Alokasi Waktu
|
|
Pendahuluan
|
Discovery Learning
|
1. Ketua kelas
meminpin doa
2. Peserta didik merespon salam dan
pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya
2. Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran
sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan
3. Peserta didik menerima informasi kompetensi yang akan dilaksanakan
|
15
|
|
Inti
|
|
Stimulation (memberi stimulasi)
1. Peserta
didik membentuk
kelompok belajar beranggotakan 4 – 6.
2. Peserta didik mendapatkan model
teks cerita pendek.
3. Peserta didik membaca model
teks cerpen.
Statement(Mengidentifikasi
masalah)
4. Setelah membaca siswa merumuskan isi cerpen yang di baca
5. Peserta
didik mengidentifikasi
nilai-nilai kehidupan yang tekandung dalam cerpen yang dibaca
Pengolahan Data.
6. Peserta
didik mengeksplorasi/
mengolah
data nilai-nilai kehidupan yang tekandung dalam cerpen
dengan kehidupan nyata
secara berdiskusi Verification
7. Peserta didik dengan mengunakan
berbagai sumber mencari kebenaran tentang nilai-nilai kehidupan yang
terkandung di dalam cerpen
8. Peserta didik
mendemonstrasikan hasil diskusi tentang nilai-nilai yang terkandung dalam
cerpen yang dibaca.
Generalizaton
9. Peserta didik memperoleh
klarifikasi/ penegasan dari guru tentang cerpen.
10. Peserta didik
memperoleh pengayaan informasi dan referensi dari guru
11. Peserta didik
memperoleh apresiasi dari guru.
|
60
|
|
Kegiatan Penutup
|
Generalitation
(meanarik kesimpulan)
|
1. Peserta didik bersama guru menyimpulkan pembelajaran
2. Peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilakukan
3. Peserta didik dan guru merencanakan tindak lanjut pembelajaran untuk
pertemuan selanjutnya
4. Menginformasikan materi yang
akan datang.
|
15
|
. H. Penilaian Hasil Belajar
Lembar Kerja
Siswa 1
1. Baca teks
cerpen “Juru Masak” dan “Banun”!
2. Apa isi dari
kedua teks tersebut?
3. Nilai-niali
kehidupan apa sajakah yang terkandung dalam
kedua cerpen tersebut? Buktikan dengan menunjukan kalimat yang terkait
dengan jawabanmu!
Lampiran-lampiran:
1. Materi Pembelajaran Pertemuan 1
Wacana Teks Cerpen “Juru
Masak dan “Banun”
2.Nilai-Nilai Kehidupan yang Terkandung dalam Cerpen
3. Bentuk, Teknik, dan Instrument Penilaian Sikap, Pengetahuan, dan
Keterampilan
Mengetahui Ngaglik, Agustus 2017
Kepala Sekolah Guru Bahasa Indonesia,
LAMPIRAN
1. Materi
Juru
Masak
Damhuri
Muhammad
Perhelatan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu.
Gulai kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tidak meresap ke dalam
daging. Kuah gulaikentang dan gulai rebung bakal encer karena keliru menakar
jumlah kelapaparut hingga setiap menu masakan kekurangan santan. Akibatnya,
berseraklahfitnah dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah. Bukan karena
kendurikurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan
pengantin tak sedap dipandang mata, tetapi karena macam-macam hidanganyang tersuguh
tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tetapi helattak bikin
kenyang. Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tidak dilibatkan.
Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan
Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tiga belas ekor kambing dan
berlangsung selama tiga hari, tidak berjalan mulus, bahkan hampir saja batal.
Keluarga mempelai pria merasa dibohongi oleh keluarga mempelai wanita yang
semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung
akan dipercayakan kepada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini.
Namun, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria
tiba, gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung, dan aneka
hidangan yang tersaji ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga
calon besan itu bisa dibohongi? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan
masakan Makaji.
“Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, kenduri
tak usah dilanjutkan!”
ancam Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga
Rustamadji.
“Apa susahnya mendatangkan Makaji?”
“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang
terhidang hanya bikin malu.”
Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya,
kenduri terasa hambar, sehambar gulai kambing dan gulai rebung karena
bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tidak
pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta, tak
peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak
atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak
pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisa di Lareh
Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit
meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.
***
“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu setiap
kenduri di kampung
ini, bagaimana kalau tanggung jawab itu dibebankan
pada yang lebih muda?”
saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang
kampung enam bulan lalu.
“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”
“Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah
tak lincah lagi meracik
bumbu,” balas Makaji waktu itu.
“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana
kalau Ayah jadi juru
masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta?
Saya tak ingin lagi
berjauhan dengan Ayah.”
Sejenak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat
orang tua memang selalu begitu, walau terasa semanis gula, tak bakal langsung
direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, mesti
matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu.
Orang tua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua? Dan kini,
gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial akan segera
memboyongnya ke rantau. Makaji tetap akan mempunyai kesibukan di Jakarta, ia
akan jadi juru masak di rumah makan milik anaknya sendiri.
“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi!”
“Kenduri
siapa?” tanya Azrial.
“Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang.
Sudah terlanjur Ayah
sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.”
Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi
anak gadis Mangkudun kalau bukan
Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang
tidak lain adalah Renggogeni, anak perempuan tunggal beleng itu. Siapa pula
yang tak kenal Mangkudun? Di Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hampir
sepertiga wilayah kampung ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang
yang kesulitan uang selalu beres di tangannya. Mereka tinggal menyebutkan sawah,
ladang, atau tambak ikan sebagai agunan. Dengan senang hati Mangkudun akan
memegang gadaian itu. Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni
hampir tamat dari akademi perawat di kota. Tidak banyak orang Lareh Panjang
yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan
Azrial itu benar-benar akan menjadi seorang juru rawat. Sementara Azrial bukan
siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer
sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas dan loyang perbedaan
mereka.
“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya
punya menantu anak juru
masak!” bentak Mangkudun. Dan tak lama berselang,
kabar ini berdengung
juga di telinga Azrial.
“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab. Renggo
yakin kami berjodoh.”
“Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh
dengan Azrial. Akan
saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi
suamimu. Paham kau?”
Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak
berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tetapi
tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan
berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa
luka hati.
Awalnya ia hanya tukang cuci piring di rumah makan
milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di
Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu
bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama
bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua
puluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan.
Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal
mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai
orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa
Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian
saja di rumah, tak ada yang merawat. Adik-adiknya sudah terbang hambur pula ke
negeri orang. Meski hidup Azrial sudah berada, tetapi ia masih saja membujang.
Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tetapi tak seorang perempuan pun yang
mampu meluluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau
jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.
***
Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali
meriam ditembakkan ke langit, pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak
biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila
yang menggelar kenduri bukan orang berpengaruh seperti Mangkudun, tentu tak
sembarang dipertontonkan. Para tetua kampung menyiapkan pertunjukan pencak guna
menyambut kedatangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan
pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah,
menantu Mangkudun bukan orang kebanyakan, tetapi perwira muda kepolisian yang
baru dua tahun bertugas, anak bungsu pensiunan tentara, orang disegani di
kampung sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak
dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda.
Terdengar kabar bahwa perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria
hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan
atas dasar hutang budi.
Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni,
bahwa ia akan mencarikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh
lebih bermartabat. Tengoklah, Renggogeni kini tengah bersanding dengan
Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak “macam-macam” tentu kariernya
lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tetapi,
pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor
kambing itu tidak begitu ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya
datang di hari pertama, sekadar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang
dikeluarkan untuk menyemarakkan kenduri, setelah itu mereka berbalik
meninggalkan helat. Bahkan ada yang belum sempat mencicipi hidangan, sudah
tergesa pulang.
“Gulai kambingnya tak ada rasa,” bisik seorang tamu.
“Kuah gulai rebungnya encer seperti kuah sayur toge.
Kembang perut kami
dibuatnya.”
“Masakannya tak mengenyangkan, tak mengundang selera.”
“Pasti juru masaknya bukan Makaji!”11
Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan
pengantar mempelai pria
diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka
hanya dijamu dengan
menu masakan yang asal-asalan, kurang bumbu, kuah
encer, dan daging yang
tak kempuh. Padahal mereka bersemangat datang karena
pesta perkawinan di
Lareh Panjang mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu
rasa masakan hasil
olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau
bukan Makaji?
“Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri
sepenting ini?” begitu
mereka bertanya-tanya.
“Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang
meracik bumbu.”
“Ah, menyesal kami datang ke pesta ini.”
***
Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak
laki-laki Makaji dating dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini,
juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan
menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang akan
kehilangan juru masaK handal yang pernah ada di kampung itu. Kabar kepergian
Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat
membayangkan betapa terpiuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih
pujaannya telah dipersunting lelaki lain.
Banun
Cerpen Damhuri
Muhammad
Bila ada yang bertanya, siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan
ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung
serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun,
lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar, pada sebuah
pergunjingan yang penuh dengan kedengkian, seseorang menambahkan kata “kikir”
di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon,
hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor
kekikiran Banun.
Ada banyak Banun di perkampungan lereng bukit yang
sejak dulu tanahnya subur hingga tersohor sebagai daerah penghasil padi
kwalitet nomor satu itu. Pertama, Banun dukun patah-tulang yang dangau usangnya
kerap didatangi laki-laki pekerja keras bila pinggang atau pangkal lengannya
terkilir akibat terlampau bergairah mengayun cangkul. Disebut-sebut, kemampuan
turuntemurun Banun ini tak hanya ampuh mengobati patah-tulang orang-orang tani,
tapi juga bisa mempertautkan kembali lutut kuda yang retak akibat bendi yang
dihelanya terguling lantaran sarat muatan. Kedua, Banun dukun beranak yang
kehandalannya lebih dipercayai ketimbang bidan desa yang belum apa-apa sudah
angkat tangan, lalu menyarankan pasien buntingnya bersalin di rumah sakit
kabupaten. Sedemikian mumpuninya kemampuan Banun kedua ini, bidan desa merasa
lebih banyak menimba pengalaman dari dukun itu ketimbang dari buku-buku semasa
di akademi. Ketiga, Banun tukang lemang yang hanya akan tampak sibuk pada hari
Selasa dan Sabtu, hari berburu yang nyaris tak sekali pun dilewatkan oleh para
penggila buru babi dari berbagai pelosok. Di hutan mana para pemburu melepas
anjing, di sana pasti tegak lapak lemang-tapai milik Banun.
Berburu seolah tidak afdol tanpa lemang-tapai bikinan
Banun, yang hingga kini belum terungkap rahasianya. Tapi, hanya ada satu Banun
Kikir yang karena riwayat kekikirannya begitu menakjubkan, tanpa mengurangi
rasa hormat pada Banun-Banun yang lain, sepatutnyalah ia menjadi lakon dalam
cerita ini.
***
Di sepanjang usianya, Banun Kikir tak pernah membeli
minyak tanah untuk mengasapi dapur keluarganya. Perempuan itu menanak nasi
dengan cara menyorongkan seikat daun kelapa kering ke dalam tungku, dan setelah
api menyala, lekas disorongkannya pula beberapa keping kayu bakar yang selalu
tersedia di bawah lumbungnya. Saban petang, selepas bergelimang lumpur sawah,
daun-daun kelapa kering itu dipikulnya dari kebun yang sejak lama telah
digarapnya. Mungkin sudah tak terhitung berapa jumlah simpanan Banun selama ia
menahan diri untuk tidak membeli minyak tanah guna menyalakan tungku. Sebab,
daun-daun kelapa kering di kebunnya tiada bakal pernah berhenti berjatuhan.
59
“Hasil sawah yang tak seberapa itu hendak dibawa mati,
Mak?” tanya Rimah
suatu ketika. Kuping anak gadis Banun itu panas karena
gunjing perihal Banun
Kikir tiada kunjung reda.
“Mak tak hanya kikir pada orang lain, tapi juga kikir
pada perut sendiri,”
gerutu Nami, anak kedua Banun.
“Tak usah hiraukan gunjingan orang! Kalau benar apa
yang mereka tuduhkan,
kalian tak bakal mengenyam bangku sekolah, dan
seumur-umur akan jadi orang
tani,” bentak Banun.
“Sebagai anak yang lahir dari rahim orang tani,
semestinya kalian paham
bagaimana tabiat petani sejati.”
Sejak itulah Banun menyingkapkan rahasia hidupnya pada
anak-anaknya, termasuk pada Rimah, anak bungsunya itu. Ia menjelaskan kata
“tani” sebagai penyempitan dari “tahani”, yang bila diterjemahkan ke dalam
bahasa orang kini berarti: “menahan diri”. Menahan diri untuk tidak membeli segala
sesuatu yang dapat diperoleh dengan cara bercocok tanam. Sebutlah misalnya,
sayur-mayur, cabai, bawang, seledri, kunyit, lengkuas, jahe. Di sepanjang
riwayatnya dalam menyelenggarakan hidup, orang tani hanya akan membeli garam.
Minyak goring sekalipun, sedapat-dapatnya dibikin sendiri. Begitu ajaran
mendiang suami Banun, yang meninggalkan perempuan itu ketika anak-anaknya belum
bisa mengelap ingus sendiri. Semakin banyak yang dapat “ditahani” Banun,
semakin kokoh ia berdiri sebagai orang tani.
Maka, selepas kesibukannya menanam, menyiangi, dan
menuai padi di sawah milik sendiri, dengan segenap tenaga yang tersisa, Banun
menghijaukan pekarangan dengan bermacam-ragam sayuran, cabai, seledri, bawang,
lengkuas, jahe, kunyit, gardamunggu, jeruk nipis, hingga semua kebutuhannya
untuk memasak tersedia hanya beberapa jengkal dari sudut dapurnya. Bila semua
kebutuhan memasak harus dibeli Banun dengan penghasilannya sebagai petani padi,
tentu akan jauh dari memadai. Bagi Banun, segala sesuatu yang dapat tumbuh di atas
tanahnya, lagi pula apa yang tak bisa tumbuh di tanah kampung itu, akan
ditanamnya, agar ia selalu terhindar dari keharusan membeli. Dengan begitu,
penghasilan dari panen padi, kelak bakal terkumpul, guna membeli lahan sawah
yang lebih luas lagi. Dan, setelah bertahun-tahun menjadi orang tani, tengoklah
keluarga Banun kini. Hampir separuh dari lahan sawah yang terbentang di wilayah
kampung tempat ia lahir dan dibesarkan, telah jatuh ke tangannya. Orang-orang
menyebutnya tuan tanah, yang seolah tidak pernah kehabisan uang guna meladeni
mereka yang terdesak keperluan biaya sekolah anak-anak. Tak jarang pula untuk
biaya keberangkatan anak-anak gadis mereka ke luar negeri, untuk menjadi TKW,
lalu menggadai, bahkan menjual lahan sawah. Empat orang anak Banun telah
disarjanakan dengan kucuran peluhnya selama menjadi orang tani.
***
Sesungguhnya Banun tidak lupa pada orang yang pertama
kali menjulukinya Banun Kikir hingga nama buruk itu melekat sampai umurnya
hampir berkepala tujuh. Orang itu tidak lain adalah Palar, laki-laki ahli waris
tunggal kekayaan ibu-bapaknya. Namun, karena tak terbiasa berkubang lumpur
sawah, Palar tak pernah sanggup menjalankan lelaku orang tani. Untuk sekebat
sayur kangkung pun, Zubaidah (istri Palar), harus berbelanja ke pasar. Pekarangan
rumahnya gersang. Kolamnya kering. Bahkan sebatang pohon Singkong pun menjadi
tumbuhan langka. Selama masih tersedia di pasar, kenapa harus ditanam? Begitu
kira-kira prinsip hidup Palar. Baginya, bercocok tanam aneka tumbuhan untuk
kebutuhan makan sehari-hari, hanya akan membuat pekerjaan di sawah jadi
terbengkalai. Lagi pula, bukankah ada tauke yang selalu berkenan memberi
pinjaman, selama orang tani masih mau menyemai benih? Namun, tauke-tauke yang
selalu bermurah-hati itu, bahkan sebelum sawah digarap, akan mematok harga jual
padi seenak perutnya, dan para petani tidak berkutik dibuatnya. Perangai lintah
darat itu sudah merajalela, bahkan sejak Banun belum mahir menyemai benih.
Palar salah satu korbannya. Dua pertiga lahan sawah yang diwarisinya telah
berpindah tangan pada seorang tauke, lantaran dari musim ke musim hasil
panennya merosot. Palar juga terpaksa melego beberapa petak sawah guna
membiayai kuliah Rustam, anak laki-laki satu-satunya, yang kelak bakal
menyandang gelar insinyur pertanian. Dalam belitan hutang yang entah kapan
bakal terlunasi, Palar mendatangi rumah Banun, hendak meminang Rimah untuk
Rustam.
“Karena kita sama-sama orang tani, bagaimana kalau
Rimah kita nikahkan
dengan Rustam?” bujuk Palar masa itu.
“Pinanganmu terlambat. Rimah sudah punya calon suami,”
balas Banun
dengan sorot mata sinis.
“Keluargamu beruntung bila menerima Rustam. Ia akan
menjadi satu-satunya
insinyur pertanian di kampung ini, dan hendak
menerapkan cara bertani zaman
kini, hingga orang-orang tani tidak lagi terpuruk
dalam kesusahan,” ungkap Palar
sebelum meninggalkan rumah Banun.
“Maafkan saya, Palar.”
Rupanya penolakan Banun telah menyinggung perasaan
Palar. Lelaki itu merasa terhina. Mentang-mentang sudah kaya, Banun
mentah-mentah menolak pinangannya. Dan, yang lebih menyakitkan, ini bukan
penolakan yang pertama. Tiga bulan setelah suami Banun meninggal, Palar
menyampaikan niatnya hendak mempersunting janda kembang itu. Tapi, Banun
bertekad akan membesarkan anak-anaknya tanpa suami baru. Itu sebabnya Palar
menggunakan segala siasat dan muslihat agar Banun termaklumatkan sebagai
perempuan paling kikir di kampung itu. Palar hendak membuat Banun menanggung
malu, bila perlu sampai ajal datang menjemputnya.
***61
Meski kini sudah zaman gas elpiji, Banun masih
mengasapi dapur dengan daun kelapa kering dan kayu bakar, hingga ia masih
menyandang julukan si Banun Kikir. “Nasi tak terasa sebagai nasi bila dimasak
dengan elpiji,” kilah Banun saat menolak tawaran Rimah yang hendak
membelikannya kompor gas. Rimah sudah hidup berkecukupan bersama suaminya yang
bekerja sebagai guru di ibu kota kabupaten. Begitu pula dengan Nami dan dua
anak Banun yang lain. Sejak menikah, mereka tinggal di rumah masing-masing.
Setiap Jumat, Banun dating berkunjung, menjenguk cucu, secara bergiliran.
“Kalau Mak menerima pinangan Rustam, tentu julukan
buruk itu tak pernah
ada,” sesal Rimah suatu hari.
“Masa itu kenapa Mak mengatakan bahwa aku sudah punya
calon suami,
padahal belum, bukan?”
“Bukankah calon menantu Mak calon insinyur?”
“Tak usah kau ungkit-ungkit lagi cerita lama. Mungkin
Rustam bukan
jodohmu!” sela Banun.
“Tapi seandainya kami berjodoh, Mak tak akan dinamai
Banun Kikir!”
Sesaat Banun diam. Tanya-tanya nyinyir Rimah
mengingatkan ia pada Palar yang begitu bangga punya anak bertitel insinyur
pertanian, yang katanya dapat melipatgandakan hasil panen dengan mengajarkan
teori-teori pertanian. Tapi, bagaimana mungkin Rustam akan memberi contoh cara
bertani modern, sementara sawahnya sudah ludes terjual? Kalau memang benar
Palar orang tani yang sesungguhnya, ia tidak akan gampang menjual lahan sawah,
meski untuk mencetak insinyur pertanian yang dibanggakannya itu. Apalah guna
insinyur pertanian bila tidak mengamalkan laku orang tani? Banun menolak
pinangan itu bukan karena Palar sedang terbelit hutang, tidak pula karena ia
sudah jadi tuan tanah, tapi karena perangai buruk Palar yang dianggapnya
sebagai penghinaan pada jalan hidup orang tani. (*)
Tanah Baru, 2010
(Kompas, 24 Oktober 2010)
Nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen:
1) Nilai agama berkaitan dengan perilaku benar atau salah dalam
menjalankan aturan-aturan Tuhan
2) Nilai budaya berkaitan dengan pemikiran, kebiasaan, dan hasil
karya cipta manusia.
3) Nilai sosial berkaitan dengan tata laku hubungan antarsesama
manusia(kemasyarakatan)
4) Nilai moral berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi
dasar kehidupan manusia dan masyarakat
2. Penilaian Sikap
1) Teknik dan Bentuk Penilaian
|
Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Tujuan
|
|
Sikap-Spiritual Sosial
|
Observasi
|
Pedoman observasi
Daftar cek dan skala penilaian
disertai rubrik
|
Formatif, pembentukan sikap berdasar nilai-nilai yang diyakini
|
|
Jurnal
|
Lembar Jurnal
|
Formatif Terstruktur
|
2) Instument Penilaian Sikap
a. Observasi
Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan!
|
No.
|
Nama Siswa
|
Religius
|
Tanggung Jawab
|
Peduli
|
Responsif
|
Santun
|
|||||||||||||||
|
BT
|
MT
|
MB
|
MK
|
BT
|
MT
|
MB
|
MK
|
BT
|
MT
|
MB
|
MK
|
BT
|
MT
|
MB
|
MK
|
BT
|
MT
|
MB
|
MK
|
||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a) MK :
Membudaya
b) MB : Mulai
berkembang
c) MT : Mulai
tampak
d) BT : Belum
tampak
b. Jurnal
|
No
|
Tanggal
|
Nama Siswa
|
Catatan
Perilaku
|
Butir Sikap
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Penilaian Pengetahuan
1) Teknik : Tes Tertulis
2) Bentuk : Essay
3) Instrument :
|
|
KUNCI / KRITERIA JAWABAN/ ASPEK
YANG DINILAI
|
TINGKAT
|
SKOR
|
|
1
|
ISI CERPEN
· Sesuai dengan isi kutipan, luas dan lengkap, amat
terjabar.
· Sesuai dengan kutipan, luas dan lengkap, terjabar
kurang baik.
· Sesuai dengan kutipan,kurang luas dan kurang lengkap, terjabar kurang
baik.
· Tidak sesuai dengan kutipan, tidak luas dan tidak
lengkap, terjabar tidak baik.
|
Amat Baik
Baik
Sedang
Kurang
|
4
3
2
1
|
|
2
|
NILAI-NILAI KEHIDUPAN DALAM CERPEN
· Benar, lengkap, amat jelas, kaya akan gagasan,
logis, kohesi amat tinggi
· Benar, lengkap, amat jelas, kaya akan gagasan,
logis, kohesi kurang baik.
· Benar, kurang lengkap lengkap, kurang jelas, miskin gagasan, logis, kohesi kurang baik
· Tidak benar, tidak lengkap, tidak jelas jelas, miskin gagasan, tidak logis, kohesi tidak baik
|
Amat Baik
Baik
Sedang
Kurang
|
4
3
2
1
|
|
3
|
KAIDAH TATA BAHASA
· Amat menguasai tata bahasa, amat sedikit kesalahan
penggunaan dan penyusunan kalimat.
· Penggunaan dan penyusunan kalimat sederhana, sedikit
kesalahan tata bahasa tanpa mengaburkan makna
· Kesulitan dalam penggunaan dan penyusunan kalimat
sederhana, kesalahan tata bahasa yang mengaburkan makna.
· Tidak menguasai penggunaan dan penyusunan kalimat
tidak komunikatif
|
Amat Baik
Baik
Sedang
Kurang
|
4
3
2
1
|
|
4.
|
INTERPRETASI TEKS
· Sesuai dengan isi teks, lengkap, logis, runtut,
dankomunikatif.
· Sesuai dengan isi teks, lengkap, logis, runtut,
tetapi kurang komunikatif.
· Sesuai dengan isi teks, lengkap, logis,tetapi
kurang runtut dan kurang komunikatif
· Tidak sesuai dengan isi teks, tidak
lengkap,tidak logis, tidak runtut, dan
tidak komunikatif
|
Amat Baik
Baik
Sedang
Kurang
|
4
3
2
1
|
4. Penilaian Keterampilan
1)Teknik :
Praktek dan Portofolio
2) Bentuk :
Presentasi
3) Instrument :
|
Nama
|
:
|
|
Kelas/NIS
|
:
|
|
Tanggal
|
:
|
|
No
|
Aspek
|
Amat Baik
|
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
|
|
|
4
|
3
|
2
|
1
|
|
1
|
Persiapan
|
|
|
|
|
|
2
|
Penyampaian
|
|
|
|
|
|
3
|
Penampilan
|
|
|
|
|
|
4
|
Komunikasi nonverbal
|
|
|
|
|
|
5
|
Komunikasi Verbal
|
|
|
|
|
|
6
|
Pemanfaatan piranti Bahasa
|
|
|
|
|
|
7
|
Alat Bantu Visual
|
|
|
|
|
|
8
|
Tanggapan terhadap Pertanyaan
|
|
|
|
|
|
9
|
Isi
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
|
|
|




Tidak ada komentar:
Posting Komentar