Sabtu, 21 Oktober 2017

RPP Bahasa Indonesia Kelas X Anekdot

RPP Bahasa Indonesia Kelas X




RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah                           : SMAN
Mata pelajaran             : Bahasa Indonesia
Materi Pokok                                : Anekdot
Kelas/Semester           : X/1
Alokasi Waktu             : 3 x 45 menit

A. Kompetensi Inti (KI)
KI 1 dan KI 2 : Memiliki sikap perilaku jujur, disiplin, kerjasama, bertanggung jawab, responsif, dan proaktif, dan mampu berkomunikasi dengan baik serta menyadari dirinya sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa serta menjalankan kewajibannya sesuai dengan agama yang dianutnya
KI3: Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI4: Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara: efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif, dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah keilmuan  
                                           
B.   Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.6.
Menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot.

3.6.1
Mengidentifikasi struktur dan  kebahasaan teks anekdot.

3.6.2
Menganalisis bahasa teks anekdot berdasarkan aspek pilihan kata, gaya bahasa, dan  konjungsi

4.6.
Menciptakan kembali teks anekdot dengan memerhatikan struktur, dan kebahasaan.
4.6.1
Membuat kembali teks anekdot  dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan.

4.6.2
Menyunting teks anekdot yang ditulis teman berdasarkan struktur dan kaidah teks anekdot










C.   Cloud Callout: Berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif, PPK

Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran  dengan model  Discovery Learning peserta didik dapat menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot,  menciptakan kembali teks anekdot dengan memerhatikan struktur, dan kebahasaan, memiliki sikap jujur, bertanggung jawab, kerjasama, responsif,  proaktif dan mampu berkomunikasi dengan baik

D.  Materi Pembelajaran 
1.       Mengidentifikasi struktur dan kebahasaan teks anekdot
2.       Menganalisis  teks anekdot
3.       Membuat teks anekdot
4.       menyunting teks anekdot yang ditulis teman berdasarkan struktur dan kaidah teks anekdot
E.   Metode : Diskusi, informasi, eksperimen
F.    Media Pembelajaran
1. Media/alat           : infokus,  Laptop, teks anekdot, daring
2. Bahan                      :

G.   Sumber Belajar
1.       buku Paket Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas X Kemdikbud,



H.  Kegiatan Pembelajaran

Deskripsi Kegiatan Pembelajaran
Keterangan
Kegiatan Pendahuluan

1.     Peserta didik merespon  salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya
2.     Bertanya tentang permasalahan yang berkaitan dengan fenomena  yang marak terjadi akhir-akhir ini.
3.     Peserta didik menerima informasi tentang pembelajaran yang akan dilaksanakan dan mengkaitkan  dengan materi sebelumnya.
4.     Peserta didik menerima informasi tentang kompetensi, ruang lingkup materi, tujuan, kegiatan pembelajaran, penilaian yang akan dilaksanakan

Line Callout 2: Kegiatan literasi, pemecahan masalah dan kreatif




Kegiatan Inti

Cloud Callout: Berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreatif, keg literasi




1.     Disajikan teks anekdot di LCD, di antara siswa membaca teks anekdot tersebut, peserta didik yang lain mengamati, mendengarkan, menyimak.






1.   Memberi  stimulus

Cloud Callout: Berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreatif, kegiatan literasi membaca dan teknologi




2.       Peserta didik mengidentifikasi, isi  teks anekdot (struktur teks anekdot dengan cermat), bahasa teks anekdot (pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi ) dengan cermat.


3.       Peserta mencari informasi yang berkaitan dengan teks anekdot dari buku, handout, daring (alamat daring sudah ditentukan oleh guru) yang berkaitan dengan struktur dan bahasa teks anekdot.

Cloud Callout: Berkolaborasi dalam  pemecahan masalah, dan komunikatif serta keg literasi

 




4.       Peserta didik melakukan diskusi kelompok. Kemudian, dalam kelompok tersebut, peserta didik menulis teks anekdot dengan tema lain (ditentukan oleh guru).

5.       Peserta didik membandingkan hasil diskusi dengan kelompok lainnya dengan cara mempresentasikan, kemudian kelompok lain menanggapi untuk mendapatkan saran dan masukan dengan menggunakan bahasa yang santun dan bertanggung jawab.

6.       Peserta didik membuat kesimpulan tentang struktur dan kebahasaan teks anekdot dengan santun dan bertanggung jawab.



Cloud Callout: Berfikir kritis, Berkolaborasi dalam  pemecahan masalah
 






7.       Peserta didik diberikan soal untuk memperkuat penguasan kompetensi yang telah dikuasai dan soal ada di lampiran




2.   Mengidentifikasi


3.   Mengumpulkan Data





4.   Mengolah Data


5.   Menverifikasi



6.   Menyimpulkan
Penutup

1.       Peserta didik merefleksi penguasaan materi yang telah dipelajari dengan membuat catatan penguasaan materi.
2.       Guru memberikan tugas mandiri untuk soal HOTS
3.       Peserta didik mendengarkan arahan guru untuk materi pada pertemuan berikutnya



I.     Penilaian
Penilaian sikap dengan observasi dan jurnal (terlampir)
Penilaian pengetahuan dengan tes tulis, bentuk uraian (terlampir)
Penilaian keterampilan dengan penugasan, tes praktik bentuk uraian(terlampir)

Sleman,     Juli 2017
Mengetahui,                                                                                      
Kepala                                                                                    Guru Mata Pelajaran,





























Lampiran:
Materi Pembelajaran

Teks “Anekdot Hukum Peradilan”

Peradilam merupakan suatu sistem atau proses penegakan hukum dan keadilan. Ini berarti bahwa peradilan  merupakan suatu proses untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan melalui pengadilan. Peradilan sangat penting karena segala peraturan hukum yang diciptakan di dalam suatu negara, guna menjamin keselamatan masyarakat dan yang menuju kepada tercapainya kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, maka adanya peradilan yang baik dan teratur serta mencukupi kebutuhan adalah suatu keharusan di dalam susunan negara hukum.

Setiap negara mempunyai sistem peradilannya sendiri, tidak terkecuali negar Indonesia. Secara historis, Negara Indonesia sebenarnya tidak memiliki sistem peradilan sendiri dan sistem peradilan yang ada di Indonesia merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda, kecuali mungkin sistem peradilan adat. Sistem peradilan Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan, terutama pasca era reformasi dan setelah UUD 1945 diamandemen.

Layanan publik sering mendapatkan kritik atau menjadi bahan lelucon yang membuat gelak tawa. Kritik atau lelucon itu dapat disampaikan melalui anekdot. Pada pelajaran ini, kalian akan diajak untuk menyelami bahasa dalam anekdot yang digunakan untuk menyampaikan kritik atau lelucon di bidang layanan publik. Bidang yang tercakup dalam layanan publik amat luas, salah satu diantara nya adalah dalam bidang hukum. Seperti pada teks anekdot yang diadaptasi dari http://politik.kompasiana.com berikut ini 
Anekdot Hukum Peradilan
1.             Pada zaman dahulu di suatu negara (yang pasti bukan negara kita) ada seorang tukang pedati yang rajin dan tekun. Setiap pagi dia membawa barang dagangan ke pasar dengan pedatinya. Suatu pagi dia melewati jembatan yang baru dibangun. Namun sayang, ternyata kayu yang dibuat untuk jembatan tersebut tidak kuat. Akhirnya, tukang pedati itu jatuh ke sungai. Kuda beserta dagangannya hanyut.
2.             Si Tukang Pedati dan keluarganya tidak terima karena mendapat kerugian gara-gara  jembatan yang rapuh. Setelah itu, mereka melaporkan kejadian itu kepada hakim untuk mengadukan si Pembuat Jembatan agar dihukum dan memberi uang ganti rugi. Zaman dahulu orang dapat melapor langsung ke hakim karena belum ada polisi.
3.             Permohonan keluarga si Tukang Pedati dikabulkan. Hakim memanggil si Pembuat Jembatan untuk diadili. Namun, si Pembuat Jembatan tentu protes dan tidak terima. Ia menimpakan kesalahan kepada tukang kayu yang menyediakan kayu untuk bahan jembatan itu. Setelah itu, hakim memanggil si Tukang Kayu.
4.             Sesampainya di hadapan hakim, si Tukang Kayu bertanya kepada hakim, “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan hamba sehingga hamba dipanggil ke persidangan?” Yang Mulia Hakim menjawab, “Kesalahan kamu sangat besar. Kayu yang kamu bawa untuk membuat jembatan itu ternyata jelek dan rapuh sehingga menyebabkan seseorang jatuh dan kehilangan pedati beserta kudanya. Oleh karena itu, kamu harus dihukum dan mengganti segala kerugian si Tukang Pedati.” Si Tukang Kayu membela diri, “Kalau itu permasalahannya, ya, jangan salahkan saya, salahkan saja si Penjual Kayu yang menjual kayu yang jelek.” Yang Mulia Hakim berpikir, “Benar juga apa yang dikatakan si Tukang Kayu ini. Si Penjual Kayu inilah yang menyebabkan tukang kayu membawa kayu yang jelek untuk si Pembuat Jembatan.” Lalu, Hakim berkata kepada pengawalnya, “Hai pengawal, bawa si Penjual Kayu kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!” Pergilah si Pengawal menjemput si Penjual Kayu.
5.             Si Penjual Kayu dibawa oleh pengawal tersebut ke hadapan hakim. “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan hamba sehingga dibawa ke sidang pengadilan ini?” kata si Penjual Kayu. Sang Hakim menjawab, “Kesalahanmu sangat besar karena kamu tidak menjual kayu yang bagus kepada si Tukang Kayu sehingga jembatan yang dibuatnya tidak kukuh dan menyebabkan seseorang kehilangan kuda dan barang dagangannya dalam pedati.” Si Penjual Kayu menjawab, “Kalau itu permasalahannya, jangan menyalahkan saya. Yang salah pembantu saya. Dialah yang menyediakan beragam jenis kayu untuk dijual. Dialah yang salah memberi kayu yang jelek kepada si Tukang Kayu itu.” Benar juga apa yang dikatakan si Penjual Kayu itu. “Hai pengawal bawa si Pembantu ke hadapanku!” Maka si Pengawal pun menjemput si Pembantu.
6.             Seperti halnya orang yang telah dipanggil terlebih dahulu oleh hakim, si Pembantu pun bertanya kepada hakim perihal kesalahannya. Sang Hakim memberi penjelasan tentang kesalahan si Pembantu yang menyebabkan tukang pedati kehilangan kuda dan dagangannya sepedati. Si Pembantu tidak secerdas tiga orang yang telah dipanggil terlebih dahulu sehingga ia tidak bisa memberi alasan yang memuaskan sang Hakim. Akhirnya, sang Hakim memutuskan si Pembantu harus dihukum dan memberi ganti rugi. Berteriaklah sang Hakim kepada pengawal, “Hai, Pengawal, masukkan si Pembantu ini ke penjara dan sita semua uangnya sekarang juga!”
7.             Beberapa menit kemudian, sang Hakim bertanya kepada si Pengawal, ”Hai, Pengawal apakah hukuman sudah dilaksanakan?” Si Pengawal menjawab, ”Belum, Yang Mulia, sulit sekali untuk melaksanakannya.” Sang Hakim bertanya, “Mengapa sulit? Bukankah kamu sudah biasa memenjarakan dan menyita uang orang?” Si Pengawal menjawab, “Sulit, Yang Mulia. Si Pembantu badannya terlalu tinggi dan gemuk. Penjara yang kita punya tidak muat karena terlalu sempit dan si Pembantu itu tidak punya uang untuk disita.” Sang Hakim marah besar, “Kamu bego amat! Gunakan dong akalmu, cari pembantu si Penjual Kayu yang lebih pendek, kurus, dan punya uang!” Setelah itu, si Pengawal mencari pembantu si Penjual Kayu yang lain yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang.
8.             Si Pembantu yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang bertanya kepada hakim, “Wahai, Yang Mulia Hakim. Apa kesalahan hamba sehingga harus dipenjara?” Dengan entengnya sang Hakim menjawab, “Kesalahanmu adalah pendek, kurus, dan punya uaaaaang!!!!”
9.             Setelah si Pembantu yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang itu dimasukkan ke penjara dan uangnya disita, sang Hakim bertanya kepada khalayak ramai yang menyaksikan pengadilan tersebut, ”Saudara-saudara semua, bagaimanakah menurut pandangan kalian, peradilan ini sudah adil?” Masyarakat yang ada serempak menjawab, “Adiiill!!!”

1. Struktur Teks
Teks anekdot itu panjang, tetapi struktur teksnya sederhana yaitu abstraksi^orientasi^krisis^reaksi^ koda.
1.             Abstraksi adalah bagian di awal paragraf yang berfungsi memberi gambaran tentang isi teks. Biasanya bagian ini menunjukkan hal unik yang akan ada di dalam teks.
2.             Orientasi adalah bagian yang menunjukkan awal kejadian cerita atau latar belakang bagaimana peristiwa terjadi. Biasanya penulis bercerita dengan detil di bagian ini.
3.             Krisis adalah bagian dimana terjadi hal atau masalah yang unik atau tidak biasa yang terjadi pada si penulis atau orang yang diceritakan. 
4.             Reaksi adalah bagian bagaimana cara penulis atau orang yang ditulis menyelesaikan masalah yang timbul di bagian crisis tadi. 
5.             Koda merupakan bagian akhir dari cerita unik tersebut. Bisa juga dengan memberi kesimpulan tentang kejadian yang dialami penulis atau orang yang ditulis.
Struktur
Kalimat
Abstraksi
Pada zaman dahulu di suatu negara (yang pasti bukan negara kita) ada seorang tukang pedati yang rajin dan tekun. Setiap pagi dia membawa barang dagangan ke pasar dengan pedatinya. (1)
Orientasi
Suatu pagi saat Tukang Pedati melewati jembatan, jembatan itu tidak kuat,sehingga dagangan, kuda dan Tukang Pedati itu jatuh ke sungai. Si tukang pedati dan keluarganya melaporkan si pembuat Jembatan ke hakim,karena merasa dirugikan.(1 dan 2) 
Krisis
Tidak ada yang mengaku bersalah, Si ukang Jembatan menyalahkan si Tukang kayu,si Tukang kayu menyalahkan Si Penjual Kayu,dan si Penjual kayu menyalahkan pembantunya.Meraka saling membela diri.(3, 4, 5 dan 6)
Reaksi
Penjara tidak muat untuk si Pembantu yang gemuk, dan dia tidak punya uang untuk disita.Lalu Si Hakim menyuruh pengawalnya untuk mencari pembantu yang berbadan kurus, pendek dan punya uang dan memenjarakanya.(7)
Koda
Akhirnya pembantu yang berbadan pendek, kurus,dan punya uang dimasukan penjara dan disita uangnya. Peradilan pun dianggap adil.(8)

Partisipan yang terlibat pada anekdot tersebut adalah partisipan manusia, seperti yang mulia hakim. Partisipan manusia yang lain adalah:
1.             Si Tukang Pedati dan keluarganya.
2.             Si Pembuat Jembatan 
3.             Si Tukang Kayu.
4.             Si Penjual Kayu.
5.             Si Pengawal
6.             Si Pembantu berbadan tinggi dan gemuk.
7.             Si Pembantu berbadan pendek, kurus, dan punya uang.

Dalam teks anekdot itu tidak terdapat unsur lucu, tetapi menggambarkan kekonyolan bahwa orang yang tidak bersalah dihukum dan dimasukkan ke penjara. Karena penjara tidak muat untuk pembantu berbadan gemuk itu, dan dia juga tidak punya uang untuk disita. Maka pembantu yang berbadan pendek, kurus,dan punya uang dimasukan penjara dan disita uangnya. Peradilan pun dianggap adil.
Dalam teks anekdot itu terkandung sindiran, yaitu keputusan yang tidak adil dikatakan adil. Yang disindir adalah pelaku peradilan di Indonesia, khususnya Hakim.
Salah satu pengandaian yang ditemukan dalam teks anekdot di atas adalah bahwa peradilan itu dilaksanakan di suatu negara, bukan di negara kita. Pengandaian yang lain adalah:
1.             Seandainya si Tukang Pedati tidak melewati Jembatan maka dia tidak mungkin jatuh
2.             Seandainya zaman dahulu ada Polisi, maka Masyarakat tidak bisa melapor langsung kepada Hakim
3.             Seandainya kayu Jembatan itu kuat, maka si Tukang Pedati tidak akan jatuh
4.             Jika Penjara itu besar, dan Pembantu gemuk dan tinggi itu mempunyai uang, maka dia akan dimasukkan ke dalam Penjara.

Dua contoh lawan kata yang digunakan pada anekdot tersebut adalah adil-tidak adil dan benar-salah. Maksudnya adalah bahwa sesuatu yang tidak adil dikatakan sebagai sesuatu yang adil dan sesuatu yang salah dikatakan sebagai sesuatu yang benar atau sebaliknya. Contoh lawan kata yang lain adalah sebagai berikut.
1.             Tinggi x Pendek
2.             Kurus x Gemuk
3.             Punya uang x Tidak punya uang
4.             Bodoh x Pintar
Dalam anekdot tersebut terkandung konjungsi lalu untuk menyatakan urutan peristiwa. Konjungsi yang berfungsi sejenis dengan itu adalah a) kemudian (b) mula-mula (c) selanjutnya (d) Setelah itu.
Fungsi konjungsi yang dapat digantikan oleh kata-kata. Sebagai contoh, konjungsi setelah dapat diungkapkan dengan sesampainya di hadapan hakim (paragraf 4). Kata-kata lain seperti itu pada teks anekdot itu adalah: (a) Namun sayang (b) Beberapa menit kemudian (c) Setelah (d) Oleh karena itu.
Dari teks anekdot tersebut, dapatkah kalian menyimpulkan bahwa orang yang tidak dapat berdebat di sidang pengadialan akan kalah? Tunjukkan buktinya pada teks anekdot tersebut.
Seperti halnya orang yang telah dipanggil terlebih dahulu oleh hakim, si Pembantu pun bertanya kepada hakim perihal kesalahannya. Sang Hakim memberi penjelasan tentang kesalahan si Pembantu yang menyebabkan tukang pedati kehilangan kuda dan dagangannya sepedati. Si Pembantu tidak secerdas tiga orang yang telah dipanggil terlebih dahulu sehingga ia tidak bisa memberi alasan yang memuaskan sang Hakim.
Apakah keadaan itu menggambarkan bahwa layanan publik di bidang hukum belum bagus? Pelayanan publik di Negara ini terbukti belum bagus, karena penegak hukum yang ada masih tergiur oleh godaan uang yang berjumlah sangat besar. Dan banyaknya para pelaksana hukum yang tidak adil






























Lampiran:

Format Penilaian Sikap

No.
Hari/tgl
Nama Siswa
Kejadian
Butir Sikap
Tindak lanjut
































Penilaian Pengetahuan dan Keterampilan

1.          Kisi-kisi Soal
IPK
Materi Pembelajaran
Indikator Soal
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
No soal
3.6.1. Mengidentifikasi struktur dan  kebahasaan teks anekdot.







3.6.2.Menganalisis bahasa teks anekdot berdasarkan aspek pilihan kata, gaya bahasa, dan  konjungsi









·   Struktur dan kebahasaan teks anekdot
3.6.1.1 Disajikan teks anekdot, peserta didik dapat mengidentifikasi teks tersebut berdasarkan struktur teks anekdot dengan tepat



3.6.2.1.              Disajikan teks anekdot, kemudian peseerta didik dapat mengnalisis teks tersebut bedasarkan pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi yang digunakan !
3.6.2.2.              Suntinglah teks anekdot yang sudah ditulis oleh teman kalian sesuai  struktur dan kaidah yang harus dipenuhi!
3.6.2.3.              Perbaiki teks yang sudah disunting menjadi sebuah teks anekdot yang baik sesuai struktur dan kaidahnya!


3.6.2.4.              Ceritakan teks anekdot tersebut, kemudian rekam dengan kamera ponsel Anda, kemudian unggah ke youtube, kemudian tag ke facebook saya aridtm19@gmail.com

Tes tulis









Tes tulis
















Penugasan kelompok







Penugasan kelompok










Penugasan individu/ tugas tidak terstruktur
Uraian









Uraian
















Uraian










uraian













Praktik



1









2
















3










4













5





2.        Rumusan Soal

Indikator Soal
HOTS/LOTS (Low Order Thinking Skiils)
Rumusan Soal

1.       Disajikan teks anekdot, kemudian peserta didik dapat menganalisis teks tersebut bedasarkan pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi yang digunakan !















Cloud Callout: Berfikir kritis, pemecahan masalah, dan kreatif

 





2.      Disajikan teks anekdot, peserta didik dapat menganalisis teks tersebut berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi yang digunakan dengan tepat























3.       Disajikan teks anekdot peserta didik dapat menganalisis teks tersebut berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi yang digunakan
4.       Siswa menyunting teks anekdot milik peserta didik lain dengan sesuai  struktur dan kaidah yang harus dipenuhi
5.       Siswa bercerita secara lisan dengan memperhatikan struktur dan kaidah anekdot yang benar.

HOTS






















































HOTS







HOTS









HOTS





HOTS



Bacalah teks anekdot berikut ini secara cermat!
Aksi Maling Tertangkap CCTV
Seorang warga melapor kemalingan.
Pelapor : “Pak saya kemalingan.”
Polisi    : “Kemalingan apa?”
Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya beruntungPak...”
Polisi    : “Kemalingan kok beruntung?”
Pelapor : “Iya pak. Saya beruntung karena CCTV merekam dengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas wajah malingnya.”
Polisi    : “Sudah minta izin malingnya untuk merekam?”
Pelapor : “Belum .... “ (sambil menatap polisi dengan penuh keheranan.
Polisi    : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”
Pelapor : (hanya bisa pasrah tak berdaya).
1.      Analisislah teks tersebut berdasarkan Struktur teks anekdot yang tepat!






Bacalah teks berikut ini dengan cermat!
    
Kisah Pengadilan Tindak Pidana  Korupsi

Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut  umum menyerang saksi.  Apakah benar, teriak Jaksa, Bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?
Saksi menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan. Bukankah benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini? ulang pengacara.
Saksi masih tidak menanggapi.
Akhirnya, hakim berkata, Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.
Oh, maaf. Saksi terkejut sambil berkata kepada hakim, Saya pikir dia tadi berbicara dengan Anda.
Sumber: https://radiosuaradogiyafm.blogspot.co.id


2.      Analisislah teks tersebut berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi yang digunakan !



3.      Suntinglah teks anekdot yang sudah ditulis oleh teman kalian sesuai  struktur dan kaidah yang harus dipenuhi!







4.      Perbaiki teks yang sudah disunting menjadi sebuah teks anekdot yang baik sesuai struktur dan kaidahnya!



5.      Bacalah teks anekdot tersebut, rekam dengan menggunakan HP, lalu unggah ke Youtube, kemudian tag/mention ke facebook saya aridtm19@gmail.com


====================================================Pedoman Penskoran Penilaian Pengetahuan
Mengidentifikasi Struktur Anekdot
Anekdot memiliki struktur teks yang yang membedakannya dengan teks lainnya. Teks anekdot memiliki struktur abstraksi ^ orientasi ^ krisis ^ reaksi ^ koda.
(a) Abstraksi merupakan pendahuluan yang menyatakan latar belakang atau gambaran umum tentang isi suatu teks.
(b) Orientasi merupakan bagian cerita yang mengarah pada terjadinya suatu krisis, konflik, atau peristiwa utama. Bagian inilah yang menjadi penyebab timbulnya krisis.
(c) Krisis atau komplikasi merupakan bagian dari inti peristiwa suatu anekdot. Pada bagian krisis itulah terdapat kekonyolan yang menggelitik dan mengundang tawa.
(d) Reaksi merupakan tanggapan atau respons atas krisis yang dinyatakan sebelumnya. Reaksi yang dimaksud dapat berupa sikap mencela atau menertawakan.
(e) Koda merupakan penutup atau kesimpulan sebagai pertanda berakhirnya cerita. Di dalamnya dapat berupa persetujuan, komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari cerita yang dipaparkan sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-kata, seperti itulah,akhirnya, demikianlah. Keberadaan koda bersifat opsional; bisa ada ataupun tidak ada.









Analisis struktur teks anekdot.
Aksi Maling Tertangkap CCTV
Seorang warga melapor kemalingan.
Pelapor : “Pak saya kemalingan.”
Polisi    : “Kemalingan apa?”
Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya beruntungPak...”
Polisi    : “Kemalingan kok beruntung?”
Pelapor : “Iya pak. Saya beruntung karena CCTV merekam dengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas wajah malingnya.”
Polisi    : “Sudah minta izin malingnya untuk merekam?”
Pelapor : “Belum .... “ (sambil menatap polisi dengan penuh keheranan.
Polisi    : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”
Pelapor : (hanya bisa pasrah tak berdaya).

Abstraksi
Orientasi


Krisis


Reaksi



Koda

Skor maksimal: 4
==================================================================



Anekdot memiliki unsur kebahasaan yang khas yaitu (a) menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu, (b) menggunakan kalimat retoris, kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, (c) menggunakan konjungsi (kata penghubung) yang menyatakan hubungan waktu seperti kemudian, lalu, dan sebagainya, (d) menggunakan kata kerja aksi seperti menulis, membaca, berjalan, dan sebagainya; (e) menggunakan kalimat perintah (imperative sentence); dan (f) menggunakan (kalimat seru).
Khusus untuk anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog, penggunaan kalimat langsung sangat dominan.


Analisis kaidah kebahasaan dalam teks anekdot Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.


Kaidah Kebahasaan
Teks
Kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu
Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang saksi.
Kalimat retoris
“Apakah benar,” teriak Jaksa, “Bahwa anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?”
Penggunaan konjungsi yang menyatakan hubungan waktu
Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
Penggunaan kata kerja aksi
Saksi menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan.
Penggunaan kalimat perintah
“Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
Penggunaan kalimat seru
“Oh, maaf.”
Skor maksimal= 6
         
       Nilai akhir pengetahuan =    x 100
Pedoman Penskoran Penilaian Keterampilan

Rubrik penilaian Keterampilan
No soal
Deskripsi
Skor
Skor
Maksimal
1.
Jawaban tepat, alasan tepat.
Jawaban tepat, alasan salah.
Jawaban salah, alasan salah.
20
10
10
20
2.
Kritikan tepat, bukti tepat.
Kritikan hampir benar, bukti benar/ Kritikan tepat, bukti salah.
Kritikan salah, bukti salah
20
10
10
20
3.
Identifikasi struktur teks lengkap dan tepat.
Identifikasi struktur teks sebagian besar tepat.
Identifikasi struktur teks separohnya tepat.
Identifikasi struktur teks hanya sebagian kecil tepat
30
20
20
10
30
4.
Isi, struktur, dan kebahasaan benar
Isi dan kebahasaan benar, struktur kurang tepat.
Isi dan struktur tepat, kebahasaan sebagian besar tepat
Isi kurang tepat, struktur dan kebahasaan sebagian besar tepat.
Isi kurang tepat, struktur dan kebahasaan sebagian besar kurangtepat.
30
20
20
10
10
30
       Nilai akhir  keterampilan =    x 100


Nilai akhir  =                          x 100

Tidak ada komentar:

Posting Komentar