RPP Bahasa Indonesia Kelas X
1. Struktur Teks
Teks anekdot itu panjang, tetapi struktur teksnya sederhana yaitu abstraksi^orientasi^krisis^reaksi^ koda.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah : SMAN
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Materi Pokok : Anekdot
Kelas/Semester : X/1
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit
A.
Kompetensi Inti (KI)
KI 1 dan KI 2 : Memiliki
sikap perilaku jujur, disiplin,
kerjasama, bertanggung jawab, responsif, dan proaktif, dan mampu berkomunikasi
dengan baik serta menyadari dirinya sebagai mahluk ciptaan Tuhan
yang Maha Kuasa serta menjalankan kewajibannya sesuai dengan agama yang
dianutnya
KI3: Memahami, menerapkan, menganalisis dan
mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada
tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena
dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI4: Menunjukkan keterampilan menalar,
mengolah, dan menyaji secara: efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri,
kolaboratif, komunikatif, dan solutif, dalam ranah konkret dan abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan
metoda sesuai dengan kaidah keilmuan
B.
Kompetensi Dasar
dan Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Kompetensi
Dasar
|
Indikator
Pencapaian Kompetensi
|
||
|
3.6.
|
Menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot.
|
3.6.1
|
Mengidentifikasi struktur dan
kebahasaan teks anekdot.
|
|
3.6.2
|
Menganalisis bahasa teks
anekdot berdasarkan aspek pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi
|
||
|
|
|||
|
4.6.
|
Menciptakan kembali teks anekdot
dengan memerhatikan struktur, dan kebahasaan.
|
4.6.1
|
Membuat kembali teks anekdot
dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan.
|
|
4.6.2
|
Menyunting teks anekdot
yang ditulis teman berdasarkan struktur dan kaidah teks anekdot
|
||
|
|
|
||
|
|
|
||
C.
Tujuan
Pembelajaran
Tujuan
Pembelajaran
Setelah
kegiatan pembelajaran dengan model Discovery Learning peserta didik dapat menganalisis
struktur dan kebahasaan teks anekdot, menciptakan kembali teks anekdot
dengan memerhatikan struktur, dan kebahasaan, memiliki
sikap jujur, bertanggung jawab, kerjasama, responsif, proaktif dan mampu berkomunikasi dengan baik
D.
Materi Pembelajaran
1. Mengidentifikasi struktur
dan kebahasaan teks anekdot
2. Menganalisis teks anekdot
3. Membuat teks anekdot
4. menyunting teks anekdot
yang ditulis teman berdasarkan struktur dan kaidah teks anekdot
E. Metode :
Diskusi, informasi, eksperimen
F. Media Pembelajaran
1. Media/alat : infokus, Laptop, teks anekdot, daring
2. Bahan :
G. Sumber
Belajar
1.
buku Paket
Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas X Kemdikbud,
H. Kegiatan Pembelajaran
|
Deskripsi
Kegiatan Pembelajaran
|
Keterangan
|
|||
|
Kegiatan Pendahuluan
|
|
|||
|
1.
Peserta
didik merespon salam dan pertanyaan
dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya
2.
Bertanya tentang
permasalahan yang berkaitan dengan fenomena yang marak terjadi akhir-akhir ini.
3.
Peserta
didik menerima informasi tentang pembelajaran yang akan dilaksanakan dan mengkaitkan dengan materi sebelumnya.
4.
Peserta
didik menerima informasi tentang kompetensi, ruang lingkup materi, tujuan, kegiatan pembelajaran, penilaian yang akan
dilaksanakan
|
![]() |
|||
|
Kegiatan Inti
|
|
|||
![]()
1.
Disajikan teks
anekdot di LCD, di antara siswa membaca teks anekdot tersebut, peserta didik
yang lain mengamati, mendengarkan, menyimak.
|
1.
Memberi stimulus
|
|||
![]()
2.
Peserta
didik mengidentifikasi, isi teks anekdot (struktur
teks anekdot dengan cermat), bahasa teks
anekdot (pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi ) dengan cermat.
3.
Peserta
mencari informasi yang berkaitan dengan teks anekdot dari buku, handout, daring
(alamat daring sudah ditentukan oleh guru) yang berkaitan dengan struktur dan
bahasa teks anekdot.
4.
Peserta didik
melakukan diskusi kelompok. Kemudian, dalam kelompok tersebut, peserta didik
menulis teks anekdot dengan tema lain (ditentukan oleh guru).
5.
Peserta
didik membandingkan hasil diskusi dengan kelompok lainnya dengan cara
mempresentasikan, kemudian kelompok lain menanggapi untuk mendapatkan saran
dan masukan dengan menggunakan bahasa yang santun dan bertanggung jawab.
6.
Peserta
didik membuat kesimpulan tentang struktur dan kebahasaan teks anekdot dengan
santun dan bertanggung jawab.
7.
Peserta
didik diberikan soal untuk memperkuat penguasan kompetensi yang telah
dikuasai dan soal ada di lampiran
|
2.
Mengidentifikasi
3.
Mengumpulkan
Data
4.
Mengolah
Data
5.
Menverifikasi
6.
Menyimpulkan
|
|||
|
Penutup
|
|
|||
|
1.
Peserta
didik merefleksi penguasaan materi yang telah dipelajari dengan membuat
catatan penguasaan materi.
2.
Guru memberikan tugas mandiri untuk soal HOTS
3.
Peserta
didik mendengarkan arahan guru untuk materi pada pertemuan berikutnya
|
|
I. Penilaian
Penilaian
sikap dengan observasi dan jurnal (terlampir)
Penilaian
pengetahuan dengan tes tulis, bentuk uraian (terlampir)
Penilaian keterampilan
dengan penugasan, tes praktik bentuk uraian(terlampir)
Sleman, Juli 2017
Mengetahui,
Kepala Guru Mata
Pelajaran,
Lampiran:
Materi Pembelajaran
Teks “Anekdot Hukum Peradilan”
Peradilam
merupakan suatu sistem atau proses penegakan hukum dan keadilan. Ini berarti
bahwa peradilan merupakan suatu proses untuk menegakkan hukum dan
memberikan keadilan melalui pengadilan. Peradilan sangat penting karena segala
peraturan hukum yang diciptakan di dalam suatu negara, guna menjamin
keselamatan masyarakat dan yang menuju kepada tercapainya kesejahteraan
rakyat. Oleh karena itu, maka adanya peradilan yang baik dan teratur serta
mencukupi kebutuhan adalah suatu keharusan di dalam susunan negara hukum.
Setiap negara mempunyai sistem peradilannya sendiri, tidak terkecuali negar Indonesia. Secara historis, Negara Indonesia sebenarnya tidak memiliki sistem peradilan sendiri dan sistem peradilan yang ada di Indonesia merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda, kecuali mungkin sistem peradilan adat. Sistem peradilan Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan, terutama pasca era reformasi dan setelah UUD 1945 diamandemen.
Layanan publik sering mendapatkan kritik atau menjadi bahan lelucon yang membuat gelak tawa. Kritik atau lelucon itu dapat disampaikan melalui anekdot. Pada pelajaran ini, kalian akan diajak untuk menyelami bahasa dalam anekdot yang digunakan untuk menyampaikan kritik atau lelucon di bidang layanan publik. Bidang yang tercakup dalam layanan publik amat luas, salah satu diantara nya adalah dalam bidang hukum. Seperti pada teks anekdot yang diadaptasi dari http://politik.kompasiana.com berikut ini
Setiap negara mempunyai sistem peradilannya sendiri, tidak terkecuali negar Indonesia. Secara historis, Negara Indonesia sebenarnya tidak memiliki sistem peradilan sendiri dan sistem peradilan yang ada di Indonesia merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda, kecuali mungkin sistem peradilan adat. Sistem peradilan Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan, terutama pasca era reformasi dan setelah UUD 1945 diamandemen.
Layanan publik sering mendapatkan kritik atau menjadi bahan lelucon yang membuat gelak tawa. Kritik atau lelucon itu dapat disampaikan melalui anekdot. Pada pelajaran ini, kalian akan diajak untuk menyelami bahasa dalam anekdot yang digunakan untuk menyampaikan kritik atau lelucon di bidang layanan publik. Bidang yang tercakup dalam layanan publik amat luas, salah satu diantara nya adalah dalam bidang hukum. Seperti pada teks anekdot yang diadaptasi dari http://politik.kompasiana.com berikut ini
Anekdot Hukum
Peradilan
1.
Pada zaman dahulu di suatu negara (yang pasti bukan negara kita)
ada seorang tukang pedati yang rajin dan tekun. Setiap pagi dia membawa barang
dagangan ke pasar dengan pedatinya. Suatu pagi dia melewati jembatan yang baru
dibangun. Namun sayang, ternyata kayu yang dibuat untuk jembatan tersebut tidak
kuat. Akhirnya, tukang pedati itu jatuh ke sungai. Kuda beserta dagangannya
hanyut.
2.
Si Tukang Pedati dan keluarganya tidak terima karena mendapat
kerugian gara-gara jembatan yang rapuh. Setelah itu, mereka melaporkan
kejadian itu kepada hakim untuk mengadukan si Pembuat Jembatan agar dihukum dan
memberi uang ganti rugi. Zaman dahulu orang dapat melapor langsung ke hakim
karena belum ada polisi.
3.
Permohonan keluarga si Tukang Pedati dikabulkan. Hakim memanggil
si Pembuat Jembatan untuk diadili. Namun, si Pembuat Jembatan tentu protes dan
tidak terima. Ia menimpakan kesalahan kepada tukang kayu yang menyediakan kayu
untuk bahan jembatan itu. Setelah itu, hakim memanggil si Tukang Kayu.
4.
Sesampainya di hadapan hakim, si Tukang Kayu bertanya kepada
hakim, “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan hamba sehingga hamba dipanggil ke
persidangan?” Yang Mulia Hakim menjawab, “Kesalahan kamu sangat besar. Kayu
yang kamu bawa untuk membuat jembatan itu ternyata jelek dan rapuh sehingga
menyebabkan seseorang jatuh dan kehilangan pedati beserta kudanya. Oleh karena
itu, kamu harus dihukum dan mengganti segala kerugian si Tukang Pedati.” Si
Tukang Kayu membela diri, “Kalau itu permasalahannya, ya, jangan salahkan saya,
salahkan saja si Penjual Kayu yang menjual kayu yang jelek.” Yang Mulia Hakim
berpikir, “Benar juga apa yang dikatakan si Tukang Kayu ini. Si Penjual Kayu
inilah yang menyebabkan tukang kayu membawa kayu yang jelek untuk si Pembuat
Jembatan.” Lalu, Hakim berkata kepada pengawalnya, “Hai pengawal, bawa si
Penjual Kayu kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!” Pergilah si
Pengawal menjemput si Penjual Kayu.
5.
Si Penjual Kayu dibawa oleh pengawal tersebut ke hadapan hakim.
“Yang Mulia Hakim, apa kesalahan hamba sehingga dibawa ke sidang pengadilan
ini?” kata si Penjual Kayu. Sang Hakim menjawab, “Kesalahanmu sangat besar
karena kamu tidak menjual kayu yang bagus kepada si Tukang Kayu sehingga
jembatan yang dibuatnya tidak kukuh dan menyebabkan seseorang kehilangan kuda
dan barang dagangannya dalam pedati.” Si Penjual Kayu menjawab, “Kalau itu
permasalahannya, jangan menyalahkan saya. Yang salah pembantu saya. Dialah yang
menyediakan beragam jenis kayu untuk dijual. Dialah yang salah memberi kayu
yang jelek kepada si Tukang Kayu itu.” Benar juga apa yang dikatakan si Penjual
Kayu itu. “Hai pengawal bawa si Pembantu ke hadapanku!” Maka si Pengawal pun
menjemput si Pembantu.
6.
Seperti halnya orang yang telah dipanggil terlebih dahulu oleh
hakim, si Pembantu pun bertanya kepada hakim perihal kesalahannya. Sang Hakim
memberi penjelasan tentang kesalahan si Pembantu yang menyebabkan tukang pedati
kehilangan kuda dan dagangannya sepedati. Si Pembantu tidak secerdas tiga orang
yang telah dipanggil terlebih dahulu sehingga ia tidak bisa memberi alasan yang
memuaskan sang Hakim. Akhirnya, sang Hakim memutuskan si Pembantu harus dihukum
dan memberi ganti rugi. Berteriaklah sang Hakim kepada pengawal, “Hai,
Pengawal, masukkan si Pembantu ini ke penjara dan sita semua uangnya sekarang
juga!”
7.
Beberapa menit kemudian, sang Hakim bertanya kepada si Pengawal,
”Hai, Pengawal apakah hukuman sudah dilaksanakan?” Si Pengawal menjawab,
”Belum, Yang Mulia, sulit sekali untuk melaksanakannya.” Sang Hakim bertanya,
“Mengapa sulit? Bukankah kamu sudah biasa memenjarakan dan menyita uang orang?”
Si Pengawal menjawab, “Sulit, Yang Mulia. Si Pembantu badannya terlalu tinggi
dan gemuk. Penjara yang kita punya tidak muat karena terlalu sempit dan si
Pembantu itu tidak punya uang untuk disita.” Sang Hakim marah besar, “Kamu bego
amat! Gunakan dong akalmu, cari pembantu si Penjual Kayu yang lebih pendek,
kurus, dan punya uang!” Setelah itu, si Pengawal mencari pembantu si Penjual
Kayu yang lain yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang.
8.
Si Pembantu yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang bertanya
kepada hakim, “Wahai, Yang Mulia Hakim. Apa kesalahan hamba sehingga harus
dipenjara?” Dengan entengnya sang Hakim menjawab, “Kesalahanmu adalah pendek,
kurus, dan punya uaaaaang!!!!”
9.
Setelah si Pembantu yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang
itu dimasukkan ke penjara dan uangnya disita, sang Hakim bertanya kepada
khalayak ramai yang menyaksikan pengadilan tersebut, ”Saudara-saudara semua,
bagaimanakah menurut pandangan kalian, peradilan ini sudah adil?” Masyarakat
yang ada serempak menjawab, “Adiiill!!!”
1. Struktur Teks
Teks anekdot itu panjang, tetapi struktur teksnya sederhana yaitu abstraksi^orientasi^krisis^reaksi^ koda.
1.
Abstraksi adalah bagian di awal paragraf yang berfungsi memberi
gambaran tentang isi teks. Biasanya bagian ini menunjukkan hal unik yang akan
ada di dalam teks.
2.
Orientasi adalah bagian yang menunjukkan awal kejadian cerita
atau latar belakang bagaimana peristiwa terjadi. Biasanya penulis bercerita
dengan detil di bagian ini.
3.
Krisis adalah bagian dimana terjadi hal atau masalah yang unik
atau tidak biasa yang terjadi pada si penulis atau orang yang
diceritakan.
4.
Reaksi adalah bagian bagaimana cara penulis atau orang yang
ditulis menyelesaikan masalah yang timbul di bagian crisis tadi.
5.
Koda merupakan bagian akhir dari cerita unik tersebut. Bisa juga
dengan memberi kesimpulan tentang kejadian yang dialami penulis atau orang yang
ditulis.
|
Struktur
|
Kalimat
|
|
Abstraksi
|
Pada zaman dahulu di suatu
negara (yang pasti bukan negara kita) ada seorang tukang pedati yang rajin
dan tekun. Setiap pagi dia membawa barang dagangan ke pasar dengan pedatinya.
(1)
|
|
Orientasi
|
Suatu pagi saat Tukang Pedati
melewati jembatan, jembatan itu tidak kuat,sehingga dagangan, kuda dan Tukang
Pedati itu jatuh ke sungai. Si tukang pedati dan keluarganya melaporkan si
pembuat Jembatan ke hakim,karena merasa dirugikan.(1 dan 2)
|
|
Krisis
|
Tidak ada yang mengaku
bersalah, Si ukang Jembatan menyalahkan si Tukang kayu,si Tukang kayu
menyalahkan Si Penjual Kayu,dan si Penjual kayu menyalahkan
pembantunya.Meraka saling membela diri.(3, 4, 5 dan 6)
|
|
Reaksi
|
Penjara tidak muat untuk si
Pembantu yang gemuk, dan dia tidak punya uang untuk disita.Lalu Si Hakim
menyuruh pengawalnya untuk mencari pembantu yang berbadan kurus, pendek dan
punya uang dan memenjarakanya.(7)
|
|
Koda
|
Akhirnya pembantu yang berbadan
pendek, kurus,dan punya uang dimasukan penjara dan disita uangnya. Peradilan
pun dianggap adil.(8)
|
Partisipan yang terlibat pada anekdot tersebut adalah partisipan
manusia, seperti yang mulia hakim. Partisipan manusia yang lain adalah:
1.
Si Tukang Pedati dan keluarganya.
2.
Si Pembuat Jembatan
3.
Si Tukang Kayu.
4.
Si Penjual Kayu.
5.
Si Pengawal
6.
Si Pembantu berbadan tinggi dan gemuk.
7.
Si Pembantu berbadan pendek, kurus, dan punya uang.
Dalam teks anekdot itu tidak terdapat unsur lucu, tetapi
menggambarkan kekonyolan bahwa orang yang tidak bersalah dihukum dan dimasukkan
ke penjara. Karena penjara tidak muat untuk pembantu berbadan gemuk itu,
dan dia juga tidak punya uang untuk disita. Maka pembantu yang berbadan
pendek, kurus,dan punya uang dimasukan penjara dan disita uangnya. Peradilan
pun dianggap adil.
Dalam teks anekdot itu terkandung sindiran, yaitu keputusan yang
tidak adil dikatakan adil. Yang disindir adalah pelaku peradilan di
Indonesia, khususnya Hakim.
Salah satu pengandaian yang ditemukan dalam teks anekdot di atas
adalah bahwa peradilan itu dilaksanakan di suatu negara, bukan di negara kita.
Pengandaian yang lain adalah:
1.
Seandainya si Tukang Pedati tidak melewati Jembatan maka dia
tidak mungkin jatuh
2.
Seandainya zaman dahulu ada Polisi, maka Masyarakat tidak bisa
melapor langsung kepada Hakim
3.
Seandainya kayu Jembatan itu kuat, maka si Tukang Pedati tidak
akan jatuh
4.
Jika Penjara itu besar, dan Pembantu gemuk dan tinggi itu
mempunyai uang, maka dia akan dimasukkan ke dalam Penjara.
Dua contoh lawan kata yang digunakan pada anekdot tersebut
adalah adil-tidak adil dan benar-salah. Maksudnya adalah bahwa sesuatu yang
tidak adil dikatakan sebagai sesuatu yang adil dan sesuatu yang salah dikatakan
sebagai sesuatu yang benar atau sebaliknya. Contoh lawan kata yang lain adalah
sebagai berikut.
1.
Tinggi x Pendek
2.
Kurus x Gemuk
3.
Punya uang x Tidak punya uang
4.
Bodoh x Pintar
Dalam anekdot tersebut
terkandung konjungsi lalu untuk menyatakan urutan peristiwa. Konjungsi yang
berfungsi sejenis dengan itu adalah a) kemudian (b) mula-mula (c)
selanjutnya (d) Setelah itu.
Fungsi konjungsi yang dapat digantikan oleh kata-kata. Sebagai
contoh, konjungsi setelah dapat diungkapkan dengan sesampainya di hadapan hakim
(paragraf 4). Kata-kata lain seperti itu pada teks anekdot itu adalah: (a)
Namun sayang (b) Beberapa menit kemudian (c) Setelah (d) Oleh karena itu.
Dari teks
anekdot tersebut, dapatkah kalian menyimpulkan bahwa orang yang tidak dapat
berdebat di sidang pengadialan akan kalah? Tunjukkan buktinya pada teks anekdot
tersebut.
Seperti halnya
orang yang telah dipanggil terlebih dahulu oleh hakim, si Pembantu pun bertanya
kepada hakim perihal kesalahannya. Sang Hakim memberi penjelasan tentang
kesalahan si Pembantu yang menyebabkan tukang pedati kehilangan kuda dan
dagangannya sepedati. Si Pembantu tidak secerdas tiga orang yang telah
dipanggil terlebih dahulu sehingga ia tidak bisa memberi alasan yang memuaskan
sang Hakim.
Apakah keadaan
itu menggambarkan bahwa layanan publik di bidang hukum belum bagus? Pelayanan
publik di Negara ini terbukti belum bagus, karena penegak hukum yang ada masih
tergiur oleh godaan uang yang berjumlah sangat besar. Dan banyaknya para
pelaksana hukum yang tidak adil
Lampiran:
Format Penilaian Sikap
|
No.
|
Hari/tgl
|
Nama Siswa
|
Kejadian
|
Butir Sikap
|
Tindak lanjut
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penilaian Pengetahuan dan Keterampilan
1.
Kisi-kisi
Soal
|
IPK
|
Materi Pembelajaran
|
Indikator Soal
|
Teknik Penilaian
|
Bentuk Instrumen
|
No soal
|
|
3.6.1. Mengidentifikasi struktur dan kebahasaan teks anekdot.
3.6.2.Menganalisis
bahasa teks anekdot berdasarkan aspek pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi
|
·
Struktur
dan kebahasaan teks anekdot
|
3.6.1.1 Disajikan teks anekdot, peserta
didik dapat mengidentifikasi
teks tersebut berdasarkan struktur teks anekdot dengan tepat
3.6.2.1.
Disajikan
teks anekdot, kemudian peseerta didik dapat mengnalisis teks tersebut
bedasarkan pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi yang digunakan !
3.6.2.2.
Suntinglah
teks anekdot yang sudah ditulis oleh teman kalian sesuai struktur dan kaidah yang harus dipenuhi!
3.6.2.3.
Perbaiki teks yang sudah disunting menjadi sebuah teks anekdot
yang baik sesuai struktur dan kaidahnya!
3.6.2.4.
Ceritakan
teks anekdot tersebut, kemudian rekam dengan kamera ponsel Anda, kemudian unggah
ke youtube, kemudian tag ke facebook saya aridtm19@gmail.com
|
Tes tulis
Tes tulis
Penugasan kelompok
Penugasan kelompok
Penugasan individu/ tugas tidak terstruktur
|
Uraian
Uraian
Uraian
uraian
Praktik
|
1
2
3
4
5
|
2.
Rumusan Soal
|
Indikator
Soal
|
HOTS/LOTS
(Low Order Thinking Skiils)
|
Rumusan
Soal
|
|
1. Disajikan teks anekdot, kemudian peserta
didik dapat menganalisis teks tersebut bedasarkan pilihan kata, gaya bahasa,
dan konjungsi yang digunakan !
2.
Disajikan teks
anekdot, peserta didik dapat menganalisis teks tersebut berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa,
dan konjungsi yang digunakan dengan
tepat
3. Disajikan teks anekdot peserta didik dapat
menganalisis
teks tersebut berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa, dan konjungsi yang
digunakan
4.
Siswa
menyunting teks anekdot milik peserta didik lain dengan sesuai struktur dan kaidah yang harus dipenuhi
5.
Siswa bercerita
secara lisan dengan memperhatikan struktur dan kaidah anekdot yang benar.
|
HOTS
HOTS
HOTS
HOTS
HOTS
|
Bacalah teks anekdot berikut ini secara
cermat!
Aksi Maling
Tertangkap CCTV
Seorang warga melapor kemalingan.
Pelapor : “Pak saya kemalingan.”
Polisi : “Kemalingan apa?”
Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya
beruntungPak...”
Polisi : “Kemalingan kok beruntung?”
Pelapor : “Iya pak. Saya
beruntung karena CCTV merekam dengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas
wajah malingnya.”
Polisi : “Sudah minta izin malingnya untuk
merekam?”
Pelapor : “Belum .... “ (sambil
menatap polisi dengan penuh keheranan.
Polisi : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”
Pelapor :
(hanya bisa pasrah tak berdaya).
1.
Analisislah teks tersebut berdasarkan Struktur teks anekdot yang
tepat!
Bacalah
teks berikut ini dengan cermat!
Kisah
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa
penuntut
umum menyerang saksi.
“Apakah benar,” teriak Jaksa,
“Bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?”
Saksi menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan. “Bukankah
benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?” ulang pengacara.
Saksi masih tidak menanggapi.
Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
“Oh, maaf.” Saksi terkejut sambil berkata kepada hakim, “Saya pikir dia tadi berbicara dengan Anda.”
Sumber: https://radiosuaradogiyafm.blogspot.co.id
2.
Analisislah teks tersebut berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa,
dan konjungsi yang digunakan !
3.
Suntinglah teks anekdot yang sudah ditulis oleh teman kalian
sesuai struktur dan kaidah yang harus
dipenuhi!
4.
Perbaiki teks yang sudah disunting menjadi sebuah teks anekdot
yang baik sesuai struktur dan kaidahnya!
5.
Bacalah teks anekdot tersebut, rekam dengan menggunakan HP, lalu
unggah ke Youtube, kemudian tag/mention
ke facebook saya aridtm19@gmail.com
|
====================================================Pedoman
Penskoran Penilaian Pengetahuan
Mengidentifikasi Struktur Anekdot
Anekdot memiliki struktur teks
yang yang membedakannya dengan teks lainnya. Teks anekdot memiliki struktur
abstraksi ^ orientasi ^ krisis ^ reaksi ^ koda.
(a) Abstraksi merupakan pendahuluan yang menyatakan latar
belakang atau gambaran umum tentang isi suatu teks.
(b) Orientasi merupakan bagian cerita yang
mengarah pada terjadinya suatu krisis, konflik, atau peristiwa utama. Bagian
inilah yang menjadi penyebab timbulnya krisis.
(c) Krisis atau komplikasi merupakan bagian
dari inti peristiwa suatu anekdot. Pada bagian krisis itulah terdapat
kekonyolan yang menggelitik dan mengundang tawa.
(d) Reaksi merupakan tanggapan atau respons
atas krisis yang dinyatakan sebelumnya. Reaksi yang dimaksud dapat berupa sikap
mencela atau menertawakan.
(e) Koda merupakan penutup atau kesimpulan
sebagai pertanda berakhirnya cerita. Di dalamnya dapat berupa persetujuan,
komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari cerita yang dipaparkan
sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-kata, seperti itulah,akhirnya,
demikianlah. Keberadaan koda bersifat opsional; bisa ada ataupun
tidak ada.
Analisis
struktur teks anekdot.
|
Aksi Maling
Tertangkap CCTV
Seorang warga melapor kemalingan.
Pelapor : “Pak saya kemalingan.”
Polisi : “Kemalingan apa?”
Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya
beruntungPak...”
Polisi : “Kemalingan kok beruntung?”
Pelapor : “Iya pak. Saya
beruntung karena CCTV merekam dengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas
wajah malingnya.”
Polisi : “Sudah minta izin malingnya untuk
merekam?”
Pelapor : “Belum .... “ (sambil
menatap polisi dengan penuh keheranan.
Polisi : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”
Pelapor : (hanya bisa pasrah tak
berdaya).
|
Abstraksi
Orientasi
Krisis
Reaksi
Koda
|
Skor maksimal: 4
==================================================================
Anekdot
memiliki unsur kebahasaan yang khas yaitu (a) menggunakan kalimat yang
menyatakan peristiwa masa lalu, (b) menggunakan kalimat retoris, kalimat
pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, (c) menggunakan konjungsi (kata
penghubung) yang menyatakan hubungan waktu seperti kemudian, lalu, dan
sebagainya, (d) menggunakan kata kerja aksi seperti menulis, membaca,
berjalan, dan sebagainya; (e) menggunakan kalimat perintah (imperative
sentence); dan (f) menggunakan (kalimat seru).
Khusus
untuk anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog, penggunaan kalimat langsung
sangat dominan.
Analisis
kaidah kebahasaan dalam teks anekdot Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
|
Kaidah Kebahasaan
|
Teks
|
|
Kalimat yang
menyatakan peristiwa masa lalu
|
Pada puncak
pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang saksi.
|
|
Kalimat retoris
|
“Apakah benar,”
teriak Jaksa, “Bahwa anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam
kasus ini?”
|
|
Penggunaan
konjungsi yang menyatakan hubungan waktu
|
Akhirnya, hakim
berkata, “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
|
|
Penggunaan kata
kerja aksi
|
Saksi menatap
keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan.
|
|
Penggunaan
kalimat perintah
|
“Pak, tolong
jawab pertanyaan Jaksa.”
|
|
Penggunaan
kalimat seru
|
“Oh, maaf.”
|
Skor
maksimal= 6
Nilai akhir pengetahuan
=
x 100
Pedoman Penskoran Penilaian Keterampilan
Rubrik penilaian
Keterampilan
|
No soal
|
Deskripsi
|
Skor
|
Skor
Maksimal
|
|
1.
|
Jawaban tepat,
alasan tepat.
Jawaban tepat,
alasan salah.
Jawaban salah,
alasan salah.
|
20
10
10
|
20
|
|
2.
|
Kritikan tepat,
bukti tepat.
Kritikan hampir
benar, bukti benar/ Kritikan tepat, bukti salah.
Kritikan salah,
bukti salah
|
20
10
10
|
20
|
|
3.
|
Identifikasi
struktur teks lengkap dan tepat.
Identifikasi
struktur teks sebagian besar tepat.
Identifikasi
struktur teks separohnya tepat.
Identifikasi
struktur teks hanya sebagian kecil tepat
|
30
20
20
10
|
30
|
|
4.
|
Isi, struktur,
dan kebahasaan benar
Isi dan
kebahasaan benar, struktur kurang tepat.
Isi dan
struktur tepat, kebahasaan sebagian besar tepat
Isi kurang
tepat, struktur dan kebahasaan sebagian besar tepat.
Isi kurang
tepat, struktur dan kebahasaan sebagian besar kurangtepat.
|
30
20
20
10
10
|
30
|
Nilai akhir keterampilan =
x 100
Nilai akhir =
x 100






Tidak ada komentar:
Posting Komentar